Yap. Seperti yang sudah saya katakan pada Cerita Wisudaku: Part 1, saya akan menuliskan kelanjutan kisah wisuda saya di tulisan lain. And here it is! Sembari menyela kegiatan menyapu pagi, wkwkkw. Saya pikir saya terkena gangguan nomophobia (i.e. tidakbisa lepas dari gadget) ckckckc.
Kisah yg ini akan menjadi sedih dan miris, tidak seperti Part 1 yang, well, terdengar konyol. Jadi ceritanya pas acara wisuda di GSP sudah selesai, saya sms mamak untuk bertanya lokasi mereka (bapak mamak) ada dimana. Dan mamak langsung telp. As always, sms dibalas telpon. Kelihatan kan mana yang sudah sukses dan mana yang masih prihatin wkwkwkw :p Mamak bilang ada di selatan tenda penukaran snack. So, cus saya kesana dan ketemu! Mamak pakai kebaya putih kombinasi hijau kekuningan dan bapak pakai batik ungu (yang dulu saya belikan, pakai voucher dari bank wkwkwk). Semacam terdengar tidak matching ya? Emang! Tapi tak apa. They still looked great together!
When I came to them, I saw mom was crying. Touched by graduation? I dont think so, karena wisuda kali ini tanpa prestasi. Ternyata apa? Mamak baru dapat telpon dari pakde tertua kedua dari bapak kalo pakde tertua pertama dari bapak baru saja meninggal. Deg. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. FYI, pakde memang sudah lama opname di Rumah Sakit. Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan menerima segala amal kebaikannya. Aamiin. Tolong kirim Al Fatehah ya, temans. Terima kasih :)
Well, sempet bingung juga harus gimana. Happy and sad at the same time. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan acara wisudanya. Maksud saya, bapak dan mamak pulang, dan tidak ikut wisuda fakultas. Tapi kami masih menyempatkan foto bareng dulu. Yap. Foto di salah satu stand yang ada di depan GSP.
Mbak-mbaknya menawarkan harga 150rb untuk 3 foto. Nawarlah si bapak. FYI, bapak has better skill in bargaining than mamak does. Terjemahannya adalah: bapak lebih ngeyel dan keukeuh daripada mamak :p. Setelah penawaran alot karena mbaknya bilang "Semua harganya sama, Pak. Bisa dicek," akhirnya kami berhasil mendapatkan haga 125rb untuk 4 foto. dan mbaknya berbisik, "Tapi jangan bilang2 sama temen2 lainnya ya, mbak?" Sounds cool, huh? Well, not bad. Pelajaran pertama: jangan langsung manut pada penyedia jasa, perjuangkan hak kalian untuk dapat harga terbaik! Selanjutnya, kami dijepret jepret jepret jepret (4x kan tuh? Heheh). Eh tapi sakjane dijepretnya 8 kali ding, karena setiap pose selalu dijepret ulang dengan tablet saya hoho.
Setelah itu, bapak mamak pulang dan saya antar sampai parkiran karena memang jalannya searah dg jalan ke fakultas. Selanjutnya? I was left alone. Sedih :( Lalu saya lihat ada Siti, one of my best bullying friend, bersama bapak ibuknya yang juga jalan menuju fakultas. Refleks, saya kejar mereka dan mengatakan pada ibuknya "Buk, saya diadopsi sementara ya? Bapak mamak saya barusan pulang karena pakde meninggal. Huhuhu." Dan well, they (reluctantly?) accepted me as a temporary adopted child hehhe.
Trus saya tanya apakah mereka sudah foto. Siti bilang sudah. Saya tanya lagi dapat harga berapa. Dia bilang dapat harga 100rb untuk 4 jepretan. Nguk! Pelajaran nomer 2: jangan kepedean dan menganggap penawaranmu adalah yang terbaik! Errrrr.
Sampai di fakultas, kami sempat foto-foto dengan beberapa teman yang menyempatkan datang untuk sekedar mengucapkan selamat. Selanjutnya, acara di fakultas dimulai dan kami harus melepas toga. Lepas lepas lepas. Tapi saya ngga punya plastik untuk membawa toga dan tetek bengeknya serta ijazah, sehingga saya pun menyamperi petugas catering untuk minta plastik. Setelah itu, saya dan teman-teman masuk dan diminta untuk duduk di depan. Saya perhatikan mereka, tidak ada satupun yang membawa tentengan plastik besar seperti saya. Betapa tidak, keluarganya pastilah sudah membawakan semua itu untuk mereka. Sementara saya? Sedih banget :( Akhirnya saya titipkan tas plastik besar itu ke suami mbak Novi, salah satu teman wisuda saya *nangis* Thank you suaminya mbak Novi :)
Kemirisan belum berakhir sampai disitu, teman. Setelah acara selesai, saya dibingungkan dengan pertanyaan "Kamu mau pulang naik apa, Ndum?" Secara tadi pagi kan datangnya naik taksi dan niatnya pulangnya dianter bapak mamak sampai kos. Well, (calon) adek ipar saya, Lupi, did come and brought me a bunch of flower. Thank you, honey :* Dia juga nunggu sampai acara di fakultas selesai (entah so sweet atau karena pengen makan es krim? *peace*), tapiiiii dia datang membawa sepeda saja, teman! Iya, sepeda! Kenapa? Karena dia sedang diet (niatnya?). Duh. Akhirnya, saya minta tolong Siti untuk nganterin. Dan thank Allah, dia mau. Thanks a lot, Siti! :*
Sekian kisah wisuda saya yang "berkesan" ini. Terima kasih sudah membaca dan bersimpati haha.
Tampilkan postingan dengan label Nyari Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyari Hikmah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Agustus 2014
Senin, 04 Agustus 2014
I Need My Voice Back!
Beberapa waktu yang lalu, usai ngajar di LP3I, suaraku ngga mau keluar dengan maksimal. Diawali dengan serak dan rasa sakit di tenggorokan, sampai akhirnya bener2 harus mengeluarkan begitu banyak usaha hanya untuk mengeluarkan suara yg tidak keras dan tidak merdu. Ehmmmmm..
Bagi saya, ini adalah suatu hal yang suliiiiit sekali. Mengapa?
1. Karena saya seorang pengajar yang mengampu mata kuliah English Conversation.
Hal ini berarti saya harus aktif di kelas, baik aktif bicara maupun bergerak. Ditambah lagi, mahasiswa2 saya itu orangnya lumayan ribut.. jadi, dengan suara seperti ini, mungkin saya bisa pingsan kalau nekad masuk kelas. Ya. Akhirnya tadi pagi, saya minta teman saya untuk menggantikan saya mengajar.
2. Karena saya adalah seorang wanita sejati (red: cerewet)
Well, tau lah apa modal utama untuk seseorang yang cerewet (kadang2 super cerewet)? Tdk lain dan tdk bukan adalah SUARA! Simple kan? Hanya suara. Nah, . kalau lagi ngga bisa bersuara seperti ini, apalah jadi saya nih? Tersiksa! Huhhuhu
Ditambah lagi, saya ni hobi menyanyi (kalau tdk bisa dibilang merusak lagu). Modalnya apa untuk melakukan hobi menyenangkan (buat saya thok sih, krn buat orang lain ini menyebalkan!) ini? Lagi-lagi, SUARA! Lengkap sudah. Ehmmm ijinkan saya tepok jidat dulu ya..
Dari situ saya jd berpikir, selama 24 tahun 8 bulan dan 5 hari saya dikasi nikmat suara normal sama Sang Khaliq, apa pernah saya syukuri? Ehhhmmm,, hardly yes huhuhu.. yang ada selama ini adalah "I wish I had such voice!" Ketika mendengar mbak saya, Christina Aguilera, menyanyi. Ekspresi sederhana kan? Tapi kalau direnung sebentar, bukankah itu ternyata wujud ketidak-sukuran juga? #manggut2. Astaghfirullah.
Baru kerasa di masa2 kayak gini nih, kalau ternyata, nikmat suara normal aja adalah suatu nikmat yang besaaaarrrr, terlepas dari bagus tdknya suara saat bernyanyi.. yah. Manusia. Sering bgt ber-I wish I wish. Utamanya saya sih Hehehee.. Untuk kasus ini, kalau kata om-om keren Westlife di lirik lagunya "You'll never miss the water until it's gone." Kita ngga akan ngerasa sesuatu itu berharga sampai kita kehilangannya. Nah kalau ditarik ke hal-hal yang lebih besar, kurang lebih jadinya: jangan terlalu sering liat ke atas sampai2 ngerasa "miskin" dan tdk sadar sama "kekayaan" diri, dan jangan sampe baru sadar tentang kekayaan diri setelah kekayaan itu justru hilang. Kekayaan itu luas sekali maknanya. Bisa jadi teman2 yang sayang sama kita, atau keluarga, atau apapun itu deh #mentog!
Sekian.
Bagi saya, ini adalah suatu hal yang suliiiiit sekali. Mengapa?
1. Karena saya seorang pengajar yang mengampu mata kuliah English Conversation.
Hal ini berarti saya harus aktif di kelas, baik aktif bicara maupun bergerak. Ditambah lagi, mahasiswa2 saya itu orangnya lumayan ribut.. jadi, dengan suara seperti ini, mungkin saya bisa pingsan kalau nekad masuk kelas. Ya. Akhirnya tadi pagi, saya minta teman saya untuk menggantikan saya mengajar.
2. Karena saya adalah seorang wanita sejati (red: cerewet)
Well, tau lah apa modal utama untuk seseorang yang cerewet (kadang2 super cerewet)? Tdk lain dan tdk bukan adalah SUARA! Simple kan? Hanya suara. Nah, . kalau lagi ngga bisa bersuara seperti ini, apalah jadi saya nih? Tersiksa! Huhhuhu
Ditambah lagi, saya ni hobi menyanyi (kalau tdk bisa dibilang merusak lagu). Modalnya apa untuk melakukan hobi menyenangkan (buat saya thok sih, krn buat orang lain ini menyebalkan!) ini? Lagi-lagi, SUARA! Lengkap sudah. Ehmmm ijinkan saya tepok jidat dulu ya..
Dari situ saya jd berpikir, selama 24 tahun 8 bulan dan 5 hari saya dikasi nikmat suara normal sama Sang Khaliq, apa pernah saya syukuri? Ehhhmmm,, hardly yes huhuhu.. yang ada selama ini adalah "I wish I had such voice!" Ketika mendengar mbak saya, Christina Aguilera, menyanyi. Ekspresi sederhana kan? Tapi kalau direnung sebentar, bukankah itu ternyata wujud ketidak-sukuran juga? #manggut2. Astaghfirullah.
Baru kerasa di masa2 kayak gini nih, kalau ternyata, nikmat suara normal aja adalah suatu nikmat yang besaaaarrrr, terlepas dari bagus tdknya suara saat bernyanyi.. yah. Manusia. Sering bgt ber-I wish I wish. Utamanya saya sih Hehehee.. Untuk kasus ini, kalau kata om-om keren Westlife di lirik lagunya "You'll never miss the water until it's gone." Kita ngga akan ngerasa sesuatu itu berharga sampai kita kehilangannya. Nah kalau ditarik ke hal-hal yang lebih besar, kurang lebih jadinya: jangan terlalu sering liat ke atas sampai2 ngerasa "miskin" dan tdk sadar sama "kekayaan" diri, dan jangan sampe baru sadar tentang kekayaan diri setelah kekayaan itu justru hilang. Kekayaan itu luas sekali maknanya. Bisa jadi teman2 yang sayang sama kita, atau keluarga, atau apapun itu deh #mentog!
Sekian.
Rembulan Tenggelam di Wajahmu - Tere Liye
Ada yang sedang mempertanyakan takdir? Ada yang sedang merasa hidup ini tidak adil? Ada yang sedang merasa jenuh dan lelah pada hidupnya? Saya tau obatnya! Baca novel ini Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Saya bukan promosi lho, wong ngga dapat komisi apa-apa juga. Tapi saya terbantu sekali menjawab pertanyaan tentang takdir haha!
Buat saya pribadi, ini novel luaaaaaaaaaaar biasa! Sekali lagi, sangat cocok untuk orang-orang yg sedang mempertanyakan takdir. Ya. Hal yg masih kadang (kalau tdk bisa dibilang sering) aku lakukan.
Ada banyak sekali nasihat dan nilai yang bisa diambil dari kisah, meski fiktif tentunya, yang disuguhkan di dalamnya. Diantaranya:
"... semoga langit berbaik hati memberitahu. Kalau pun tidak, begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tdk kita tahu. Yakinlah, dg ketidak-tauan itu, bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri."
"Seseorang yang memiliki tujuan hidup, maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya, kenapa dia harus dilemparkan lagi ke kesedihan. Baginya semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan, semuanya untuk menjemput tujuan itu. Dan dia bertekad menjemput akhir sambil tersenyum..."
Luar biasa bukan? :)
Buat saya pribadi, ini novel luaaaaaaaaaaar biasa! Sekali lagi, sangat cocok untuk orang-orang yg sedang mempertanyakan takdir. Ya. Hal yg masih kadang (kalau tdk bisa dibilang sering) aku lakukan.
Ada banyak sekali nasihat dan nilai yang bisa diambil dari kisah, meski fiktif tentunya, yang disuguhkan di dalamnya. Diantaranya:
"... semoga langit berbaik hati memberitahu. Kalau pun tidak, begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tdk kita tahu. Yakinlah, dg ketidak-tauan itu, bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri."
"Seseorang yang memiliki tujuan hidup, maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya, kenapa dia harus dilemparkan lagi ke kesedihan. Baginya semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan, semuanya untuk menjemput tujuan itu. Dan dia bertekad menjemput akhir sambil tersenyum..."
Luar biasa bukan? :)
Bepergian di Hari Selasa Bawa Sial: Myth or Fact?
Pagi ini saya mau nulis tentang kisah good & bad luck yg saya dan teman saya alami dalam perjalanan menuju Madura beberapa bulan yang lalu.
Saya, mba Eni dan mas Endi berangkat ke Madura pukul 10.00 dari terminal bus Giwangan Yogyakarta dan memilih naik bus Eka. Harga tiketnya 80rb/orang dan dapet makan siang sekali, air minum, serta hiburan musik dangdut (full!) yang kerasnya kagak nahaaaaaannnn .
Tidak ada yg istimewa dari perjalanan ini, selain fakta bahwa sopirnya lumayan ngebut dan bikin busnya bergoyang-goyang dahsyat, yang akhirnya bikin saya pusing.
Di sepanjang perjalanan, ada anak lelaki kecil genduuuuutttt sekali, usia 4 tahun yang duduk di barisan depan saya bersama bpknya. Dia sering menengok ke belakang, memperhatikan saya dan mba Eni. Setelah dipikir2, anak ini caper. Setiap kali kami memberikan perhatian, dia akan makin "menjadi", mulai dari minta makan terus-terusan pada ibunya setelah kami bilang "kok makan terus sih.?"; menarik-narik tirai bus yang saya lembarkan untuk menutupi panas matahari, dan berujung pd kompetisi tarik tirai (krn konsepnya sama dg tarik tambang) antara kami berdua, dsb.
Selanjutnya, kami sampai di terminal Murabaya jam 19.00 dan langsung berlomba tarik koper nyari bus patas ke Madura. Pas sudah dapat, saya dan Mba Eni langsung masuk krn bus sudah mau berangkat, sedangkan mas Endi masih di luar, masukin koper2 dan tas2 ke bagasi bersama kondektur busnya. Busnya, lucky us, sudah hampir penuh, jadi tdk ada kursi yg memungkinkan kami utk duduk berjejer. Dengan kata lain, misahlah kami. Saya duduk di tengah jejer dengan seorang bapak2, mba Eni duduk di belakang diapit seorang ibu dan seorang bapak. Mas Endi duduk di belakang di kursi tambahan. Di situ, saya mencoba mengajak bicara bpk2 yg duduk di sebelah saya. Ya, selain berusaha untuk mencairkan suasana, saya ini kan ngga bs duduk diam!
Dari situ, bapak2 yg minta dipanggil 'kakak' saja ini berkata akan turun di Sumenep (juga) setelah saya (dengan salah) menyebut bahwa kami akan turun di Sumenep. Sebenarnya saya tdk yakin juga akan turun dimana, belum sempet bertanya pada mas Endi. Lalu dia menawari utk menjadi guide kami kalo mau jalan2 di Sumenep. Dia juga minta pin BB saya (dg serius), dan membuat saya sangaaaaatt awkward! Daaaaan tebak apa yg terjadi? Krn saya ini orang Jawa tulen yg sering ngerasa ngga enak (the feeling of pekewuh), saya ngga bs menolak permintaan yg face-to-face sperti itu! I know I know, I'm an idiot, right? Tapi, Allah baik! Dia ngijinin sinyal BB ndlap ndlup dan akhirnya request nya ngga sampe. Jd meski dia nanya2 terus, saya tinggal bilang, blm ada request masuk. Later on, ketika request nya sampe, saya reject wkwkwkwkwkwkkw.. ohhh,, baru kali ini merasa senang dan bersyukur dapat sinyal jelek!
Dan ada beberapa hal lain yang membuat saya scared alias ketakutan sendiri. Akhirnya saya sms (sinyal utk WA kan masih ngga nyaut tuh) mba Eni. Seketika, mas Endi pun dikirim utk "rescue" saya dari situasi tersebut dg cara duduk di kursi tambahan dekat saya. Pas sudah ada mas Endi, bpk2 itu tdk ikut ngobrol dg kami, pdhl sebelumnya meminta (jika tdk bs dibilang mendesak?) saya utk nanya ke teman saya tentang tujuan spesifik kami di Sumenep. Atau mungkin dia tdk ikut ngobrol krn tidur? Setelah beberapa pemberhentian, ada byk kursi yang kosong. Kami berdua pun pindah ke belakang dekat mba Eni. Yah, saya pamit juga ke bapaknya. Saya kan sopan! Ehmmmm.
Nah, selidik punya selidik, kami turun di Pamekasan! Wilayah sebelum Sumenep hahahaha. Untung saya salah sebut! Pas kami sampai dan mau keluar bus, asumsi saya, kami pasti ngelewati bapaknya lagi kan? Wong tujuan dia setelah kami, dan kursi dia di depaaaaan kami. Guess what was there? He wasnt there! Aneh nggak tuh? Ckckckkckc,, it freaked me out even more, apalagi setelah inget kalo dia blg turun di Sumenep setelah berasumsi kami turun di sana.
Oh well, puncak dari cerita yg menginspirasi judul di atas adalah: kami kehilangan satu koper! Iya, koper! Tepatnya koper mbak Eni. Bayangkan betapa merepotkannya kehilangan satu koper yang berisi baju-baju terbaik untuk perjalanan akademis (seminar) selama 5 hari. Tujuan utama sih sebenarnya Bangkok, tapi kami terbang dari Surabaya dan pengen menyempatkan main ke Madura dulu. Well, kembali ke kejadian di bus, kondekturnya bilang "Mungkin jatuh pas tadi bagasi sempat terbuka di pertigaan bla bla bla. Ngga mungkin diambil orang karena blm ada yg ambil barang di bagasi selain kami." Nah loe? Bpknya terlihat sangat tidak enak pada kami, dan kami meminta nomer hape bapaknya utk masalah ganti rugi kalo kopernya tdk ketemu.
Dan sampai saat saya menulis cerita ini, koper itu belum ketemu. Untungnya bpk kondektur itu punya iktikad baik utk ganti rugi. Sayangnya, bpknya tdk punya uang untuk mengganti. Klasik sih. Tapi saya bs memahami situasinya. Berapa banyak sih pendapatan seorang kondektur kalo masih harus tanggung jawab kerugian semacam itu? Mana perusahaan busnya nggak mau bantu. Ya kami jd ngga tega sama bapaknya. Sama keluarga bapaknya. Kasian mbak eni, kasian pak kondektur, kasian keluarga bapaknya, sialan perusahaan bus.
Dan. Ada apa dengan judul tsb? Iya, karena setelah segala hal tsb tjd, ada gugon tuhon yg tetiba kami ingat "dilarang bepergian atau pulang dari bepergian pd hari selasa, bisa sial." Nah loe?!
Ya selaku makhluk yg mengenyam bangku kuliah, kami ngga percaya. Apalagi jdwal kepulangan kami besok juga di hari selasa. Bs berabe kan kalo kami percaya. Huhuhuhu. Tapi alhamdulillah, perjalanan kami selanjutnya lancar dan kami selamat sampai pulang kembali :)
Saya, mba Eni dan mas Endi berangkat ke Madura pukul 10.00 dari terminal bus Giwangan Yogyakarta dan memilih naik bus Eka. Harga tiketnya 80rb/orang dan dapet makan siang sekali, air minum, serta hiburan musik dangdut (full!) yang kerasnya kagak nahaaaaaannnn .
Tidak ada yg istimewa dari perjalanan ini, selain fakta bahwa sopirnya lumayan ngebut dan bikin busnya bergoyang-goyang dahsyat, yang akhirnya bikin saya pusing.
Di sepanjang perjalanan, ada anak lelaki kecil genduuuuutttt sekali, usia 4 tahun yang duduk di barisan depan saya bersama bpknya. Dia sering menengok ke belakang, memperhatikan saya dan mba Eni. Setelah dipikir2, anak ini caper. Setiap kali kami memberikan perhatian, dia akan makin "menjadi", mulai dari minta makan terus-terusan pada ibunya setelah kami bilang "kok makan terus sih.?"; menarik-narik tirai bus yang saya lembarkan untuk menutupi panas matahari, dan berujung pd kompetisi tarik tirai (krn konsepnya sama dg tarik tambang) antara kami berdua, dsb.
Selanjutnya, kami sampai di terminal Murabaya jam 19.00 dan langsung berlomba tarik koper nyari bus patas ke Madura. Pas sudah dapat, saya dan Mba Eni langsung masuk krn bus sudah mau berangkat, sedangkan mas Endi masih di luar, masukin koper2 dan tas2 ke bagasi bersama kondektur busnya. Busnya, lucky us, sudah hampir penuh, jadi tdk ada kursi yg memungkinkan kami utk duduk berjejer. Dengan kata lain, misahlah kami. Saya duduk di tengah jejer dengan seorang bapak2, mba Eni duduk di belakang diapit seorang ibu dan seorang bapak. Mas Endi duduk di belakang di kursi tambahan. Di situ, saya mencoba mengajak bicara bpk2 yg duduk di sebelah saya. Ya, selain berusaha untuk mencairkan suasana, saya ini kan ngga bs duduk diam!
Dari situ, bapak2 yg minta dipanggil 'kakak' saja ini berkata akan turun di Sumenep (juga) setelah saya (dengan salah) menyebut bahwa kami akan turun di Sumenep. Sebenarnya saya tdk yakin juga akan turun dimana, belum sempet bertanya pada mas Endi. Lalu dia menawari utk menjadi guide kami kalo mau jalan2 di Sumenep. Dia juga minta pin BB saya (dg serius), dan membuat saya sangaaaaatt awkward! Daaaaan tebak apa yg terjadi? Krn saya ini orang Jawa tulen yg sering ngerasa ngga enak (the feeling of pekewuh), saya ngga bs menolak permintaan yg face-to-face sperti itu! I know I know, I'm an idiot, right? Tapi, Allah baik! Dia ngijinin sinyal BB ndlap ndlup dan akhirnya request nya ngga sampe. Jd meski dia nanya2 terus, saya tinggal bilang, blm ada request masuk. Later on, ketika request nya sampe, saya reject wkwkwkwkwkwkkw.. ohhh,, baru kali ini merasa senang dan bersyukur dapat sinyal jelek!
Dan ada beberapa hal lain yang membuat saya scared alias ketakutan sendiri. Akhirnya saya sms (sinyal utk WA kan masih ngga nyaut tuh) mba Eni. Seketika, mas Endi pun dikirim utk "rescue" saya dari situasi tersebut dg cara duduk di kursi tambahan dekat saya. Pas sudah ada mas Endi, bpk2 itu tdk ikut ngobrol dg kami, pdhl sebelumnya meminta (jika tdk bs dibilang mendesak?) saya utk nanya ke teman saya tentang tujuan spesifik kami di Sumenep. Atau mungkin dia tdk ikut ngobrol krn tidur? Setelah beberapa pemberhentian, ada byk kursi yang kosong. Kami berdua pun pindah ke belakang dekat mba Eni. Yah, saya pamit juga ke bapaknya. Saya kan sopan! Ehmmmm.
Nah, selidik punya selidik, kami turun di Pamekasan! Wilayah sebelum Sumenep hahahaha. Untung saya salah sebut! Pas kami sampai dan mau keluar bus, asumsi saya, kami pasti ngelewati bapaknya lagi kan? Wong tujuan dia setelah kami, dan kursi dia di depaaaaan kami. Guess what was there? He wasnt there! Aneh nggak tuh? Ckckckkckc,, it freaked me out even more, apalagi setelah inget kalo dia blg turun di Sumenep setelah berasumsi kami turun di sana.
Oh well, puncak dari cerita yg menginspirasi judul di atas adalah: kami kehilangan satu koper! Iya, koper! Tepatnya koper mbak Eni. Bayangkan betapa merepotkannya kehilangan satu koper yang berisi baju-baju terbaik untuk perjalanan akademis (seminar) selama 5 hari. Tujuan utama sih sebenarnya Bangkok, tapi kami terbang dari Surabaya dan pengen menyempatkan main ke Madura dulu. Well, kembali ke kejadian di bus, kondekturnya bilang "Mungkin jatuh pas tadi bagasi sempat terbuka di pertigaan bla bla bla. Ngga mungkin diambil orang karena blm ada yg ambil barang di bagasi selain kami." Nah loe? Bpknya terlihat sangat tidak enak pada kami, dan kami meminta nomer hape bapaknya utk masalah ganti rugi kalo kopernya tdk ketemu.
Dan sampai saat saya menulis cerita ini, koper itu belum ketemu. Untungnya bpk kondektur itu punya iktikad baik utk ganti rugi. Sayangnya, bpknya tdk punya uang untuk mengganti. Klasik sih. Tapi saya bs memahami situasinya. Berapa banyak sih pendapatan seorang kondektur kalo masih harus tanggung jawab kerugian semacam itu? Mana perusahaan busnya nggak mau bantu. Ya kami jd ngga tega sama bapaknya. Sama keluarga bapaknya. Kasian mbak eni, kasian pak kondektur, kasian keluarga bapaknya, sialan perusahaan bus.
Dan. Ada apa dengan judul tsb? Iya, karena setelah segala hal tsb tjd, ada gugon tuhon yg tetiba kami ingat "dilarang bepergian atau pulang dari bepergian pd hari selasa, bisa sial." Nah loe?!
Ya selaku makhluk yg mengenyam bangku kuliah, kami ngga percaya. Apalagi jdwal kepulangan kami besok juga di hari selasa. Bs berabe kan kalo kami percaya. Huhuhuhu. Tapi alhamdulillah, perjalanan kami selanjutnya lancar dan kami selamat sampai pulang kembali :)
Saya Keren!
Ngambil pelajaran lagi ah. Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya mudik (dari Sleman wilayah kampus ke Bantul haha). Pas sudah kembali ke kos, dan duduk di atas kasur, saya sempat merenungi apa yang saya temui di jalan. Saya nyalip seorang bapak yang naik sepeda modifikasi di sekitar mBakulan (somewhere di Jalan Parangtritis). Tapi bukan, bukan modifikasi untuk keren-keren-an melainkan modifikasi utk menyesuaikan dengan keadaan bapaknya. Iya, bapaknya tidak bisa ngayuh sepedanya dg kaki, jd dimodifikasilah sepedanya supaya bisa jalan dg kayuhan tangan kanannya, sembari tangan kirinya pegang stang. Pas lihat itu, aku lgsg mengepalkan tangan kiri (tangan kanan untuk nge-gas motor) ke atas dan berkata "Fighting!" Sembari dlm hati mendoakan biar bpknya selalu kuat, sehat, dan semangat. Aamiin.
Lalu, jadi keinget pas pulang ke mBantul yg lalu, aku lihat 1 org bpk dan 2 org ibu yg brjalan berurutan di trotoar dekat Gramedia. Bapaknya pegang tongkat, ibuknya yg tengah pegang pundak bapaknya, dan ibuknya yg belakang pegang pundak si ibuk yg tengah. Tapi bukan, bukan main ular naga panjangnya bukan kepalang. Iya, beliau bertiga diuji dg keadaan tuna netra. Seketika itu juga aku angkat tangan kiri serta mengatakan hal dan doa yg sama.
Nah, pas merenung sembari mengantuk ini, saya jd mikir, "org lain yg ngga kenal aja aku semangati, tp kenapa tesisku masih aja stuck di bab 2?? Seberapa susahnya sih sebenernya utk menyemangati diri sendiri yg sudah sangat dikenal selama 24 th 3 bulan 24 hari ini?"
Ckckkckckc Sepertinya aku belum menghayati ayat favoritku yg diulang2 di Q.S Ar Rahman. Iya, sekali lagi Fabbiayyi aala irobbikuma tukadzdziban.! Kalo sudah menghayati, pastilah ngga akan nyia-nyia-in waktu dan "kesempurnaan" yg udah dikasih Allah. Kembali sadar kalo aku masih 35% praktek, 50% teori, dan 15% nya absurd wkwkwkwkw #self-toyor
P.S. saat artikel ini dipublikasikan, saya sudah nunggu wisuda lho! Dan usia saya sekarang 24 tahun 8 bulan 5 hari hehe. Ujian tesis saya terselenggara tanggal 30 Mei 2014, saat usia saya 24 tahun 5 bulan 30 hari. Well, kurang lebih 2 bulan 6 harian sejak perenungan itu tadi. Saya keren, bukan? I know. And I'm so proud of myself hahahahaha! Dilarang muntah ya!
Lalu, jadi keinget pas pulang ke mBantul yg lalu, aku lihat 1 org bpk dan 2 org ibu yg brjalan berurutan di trotoar dekat Gramedia. Bapaknya pegang tongkat, ibuknya yg tengah pegang pundak bapaknya, dan ibuknya yg belakang pegang pundak si ibuk yg tengah. Tapi bukan, bukan main ular naga panjangnya bukan kepalang. Iya, beliau bertiga diuji dg keadaan tuna netra. Seketika itu juga aku angkat tangan kiri serta mengatakan hal dan doa yg sama.
Nah, pas merenung sembari mengantuk ini, saya jd mikir, "org lain yg ngga kenal aja aku semangati, tp kenapa tesisku masih aja stuck di bab 2?? Seberapa susahnya sih sebenernya utk menyemangati diri sendiri yg sudah sangat dikenal selama 24 th 3 bulan 24 hari ini?"
Ckckkckckc Sepertinya aku belum menghayati ayat favoritku yg diulang2 di Q.S Ar Rahman. Iya, sekali lagi Fabbiayyi aala irobbikuma tukadzdziban.! Kalo sudah menghayati, pastilah ngga akan nyia-nyia-in waktu dan "kesempurnaan" yg udah dikasih Allah. Kembali sadar kalo aku masih 35% praktek, 50% teori, dan 15% nya absurd wkwkwkwkw #self-toyor
P.S. saat artikel ini dipublikasikan, saya sudah nunggu wisuda lho! Dan usia saya sekarang 24 tahun 8 bulan 5 hari hehe. Ujian tesis saya terselenggara tanggal 30 Mei 2014, saat usia saya 24 tahun 5 bulan 30 hari. Well, kurang lebih 2 bulan 6 harian sejak perenungan itu tadi. Saya keren, bukan? I know. And I'm so proud of myself hahahahaha! Dilarang muntah ya!
Epilog: Kado Terindah untuk Istriku
Assalamualaikum wr wb,
Sekarang saya mau share sedikit tentang buku oernikahan yang belum lama saya tamatkan. Judulnya "Kado Pernikahan untuk Istriku" tulisan Ust Fauzil Adhim yg merupakan hadiah dari teman dekat saya (thx so much ya, Atin. I learnt a lot from the book). Diangasih hadiah ini untuk ulang tahun saya (31 Desember), katanya sih biar saya cepet ketemu jodoh dan menikah! Haha. Dan tau apa? Dia baru sempet ngasih bukunya (karena lama nggak ketemu) bulan Februari 2014, dan itu tepat setelah seseorang melamar saya :) Masya Allah banget!
Well, saya nggak akan berpanjang lebar menceritakan isi bukunya. Tapi saya cuma akan share bagian epilog yang membuat saya benar-benar kagum dan terharu. Penggalan yang membuat saya merasa demikian adalah petikan dialog Rasullullah dg putrinya, Fatimatuz Zahra. Sebenarnya kisahnya sudah sering diulang-ulang, tp entah mengapa, waktu itu ada perasaan yang lain. Apa pengaruh dari judul bukunya? *dehem* Tentunya saya membaca sambil membayangkan jika kehidupan saya "sesederhana" hidup ummu kita ini.
Disebutkan Fatimah menangis krn kecapekan mengurus rumah tangganya sendiri, dari berjalan jauh mengambil air, menggiling biji2an dengan tangannya untuk membuat tepung, dan mengurus makan kuda. Ia minta pd ayahnya untuk mengatakan pada Ali, suaminya, untuk mencarikan pembantu. Rasullullah mengambil biji2annya lalu mengatakan pd alat gilingnya untuk bergerak sendiri dan alat itu bergerak. Dikatakan utk berhenti, lalu alatnya berhenti.
Ia pun berkata pd Fatimah (ini inti dari yg saya share) "Wahai Fatimah, jika Allah berkehendak untuk menjadikan alat ini bekerja sendiri, niscaya Dia akan lakukan. Tapi Dia tidak menghendaki itu karena Dia memberimu kesempatan untuk menambah catatan amal kebaikanmu. Setiap yang kau lakukan untuk suamimu, keluargamu, Allah tambahkan satu catatan kebaikan untukmu."
Pesan sederhana namun sarat makna. Selama ini saya sering bertanya "kenapa sih susah banget?" "Kenapa sih ngga ada cara yang simple?" "Kenapa sih mau dapat duit segitu saja harus kerja keras sedangkan yang lain dg enaknya dpt duit byk tanpa susah kerja?" "Kenapa sih birokrasi ngurus ini itu sulit?" Dan kenapa kenapa yg lain?
Jadi ternyata jawabannya apa? Krn Allah lagi ngasih kesempatan kita untuk menambah catatan kebaikan. Dengan satu syarat 'saja': dilakukan dg ikhlas. Iya. Satu 'saja' syaratnya. Tapi memang butuh seumur hidup untuk bs selalu belajar melengkapi satu syarat itu. Well, setidaknya untuk saya. Semoga Allah senantiasa mempermudah dan memberkahi langkah kita untuk selalu memperbaiki diri. Aamiin.
Sekarang saya mau share sedikit tentang buku oernikahan yang belum lama saya tamatkan. Judulnya "Kado Pernikahan untuk Istriku" tulisan Ust Fauzil Adhim yg merupakan hadiah dari teman dekat saya (thx so much ya, Atin. I learnt a lot from the book). Diangasih hadiah ini untuk ulang tahun saya (31 Desember), katanya sih biar saya cepet ketemu jodoh dan menikah! Haha. Dan tau apa? Dia baru sempet ngasih bukunya (karena lama nggak ketemu) bulan Februari 2014, dan itu tepat setelah seseorang melamar saya :) Masya Allah banget!
Well, saya nggak akan berpanjang lebar menceritakan isi bukunya. Tapi saya cuma akan share bagian epilog yang membuat saya benar-benar kagum dan terharu. Penggalan yang membuat saya merasa demikian adalah petikan dialog Rasullullah dg putrinya, Fatimatuz Zahra. Sebenarnya kisahnya sudah sering diulang-ulang, tp entah mengapa, waktu itu ada perasaan yang lain. Apa pengaruh dari judul bukunya? *dehem* Tentunya saya membaca sambil membayangkan jika kehidupan saya "sesederhana" hidup ummu kita ini.
Disebutkan Fatimah menangis krn kecapekan mengurus rumah tangganya sendiri, dari berjalan jauh mengambil air, menggiling biji2an dengan tangannya untuk membuat tepung, dan mengurus makan kuda. Ia minta pd ayahnya untuk mengatakan pada Ali, suaminya, untuk mencarikan pembantu. Rasullullah mengambil biji2annya lalu mengatakan pd alat gilingnya untuk bergerak sendiri dan alat itu bergerak. Dikatakan utk berhenti, lalu alatnya berhenti.
Ia pun berkata pd Fatimah (ini inti dari yg saya share) "Wahai Fatimah, jika Allah berkehendak untuk menjadikan alat ini bekerja sendiri, niscaya Dia akan lakukan. Tapi Dia tidak menghendaki itu karena Dia memberimu kesempatan untuk menambah catatan amal kebaikanmu. Setiap yang kau lakukan untuk suamimu, keluargamu, Allah tambahkan satu catatan kebaikan untukmu."
Pesan sederhana namun sarat makna. Selama ini saya sering bertanya "kenapa sih susah banget?" "Kenapa sih ngga ada cara yang simple?" "Kenapa sih mau dapat duit segitu saja harus kerja keras sedangkan yang lain dg enaknya dpt duit byk tanpa susah kerja?" "Kenapa sih birokrasi ngurus ini itu sulit?" Dan kenapa kenapa yg lain?
Jadi ternyata jawabannya apa? Krn Allah lagi ngasih kesempatan kita untuk menambah catatan kebaikan. Dengan satu syarat 'saja': dilakukan dg ikhlas. Iya. Satu 'saja' syaratnya. Tapi memang butuh seumur hidup untuk bs selalu belajar melengkapi satu syarat itu. Well, setidaknya untuk saya. Semoga Allah senantiasa mempermudah dan memberkahi langkah kita untuk selalu memperbaiki diri. Aamiin.
Kamis, 13 Juni 2013
Allah The Almighty and His Greatness
SubhanallahWalhamdulillah Walaailahaillallahu Allahuakbar La Hawla walaQuwwataillabillahil Aliyyul Adzim
Yap, such short tasbih is one of the things that my mom keeps reminding me of. She said, based on an Islamic sermon that she heard, “when we say that, Allah comes closer to us and eases us in what we are doing. No matter what you are facing, no matter how hard it is,just recite that so that Allah will always help you.” And well, I proved it.
This story that I am about to tell is about my journey in Taiwan. It was my first visit to this country. From what I saw, this country has a very very great city planning and infrastructures. It has no big area but its development is so great. It has many tall buildings as well as many vast underground areas which mostly consist of malls (Loved it! hahahahha). Besides, its people are very welcoming, friendly, and helpful. It’s just (sigh) not many of them speak English. They are proud of Mandarin. Unfortunately, I don’t speak Mandarin! (I definitely wanna be there again someday and I have to know some Mandarin!) Well, this language barrier was what troubled me so much. However, Allah was (is) always there to help us.
First of all, when my friend, Atin, and I were on our way from the airport to Taichung (our first destination in Taiwan), we prayed “Oh Allah,please send us a man who is good-looking (ups!We are women anyway), religious, smart, and kind to help us here. Aamiin.” Well we definitely thought we needed a hand since all we saw and heard when first coming there were Chinese Kanji and Mandarin words. We absolutely had no idea what they meant! On the bus, we also had no idea where to stop. All we know was just “Taichung Station” but how was it written in Kanji? Blank!
However, we could say our first Alhamdullillah. Apart from the one we said after we arrived safely and soundly, it was when this Taiwanese guy,with his limited English, friendly helped us when we asked where the station was. He even reminded us when it was time to get off of the bus (Thank you, mas)
The second Alhamdullillah was when we were still at Taichung Station. We took a break for a while to take some pictures and then we started walking with this note about our hotel address in my hand. When we were trying to ask to a Taiwanese woman, a guy touched my shoulder from behind. I turned around and saw that he looked like an Indonesian guy. He said “Asia University?”
Me “Ya.”
Him “Mari ikut saya.”
Me “Eh?” (A bit suspicious ahahahha, Well we have to always be careful, don’t we?) “Kami udah booking hotel kok mas.”
Him “Oh.” (he realized mysuspicion) “saya panitia.”
Me “Oh!” (relieved) “Emm, mas,bisa antar kami ke Backpacker Hotel ga?Kayaknya sih daerah sini.”
Him “Oh iya, saya tau. Mari ikut saya.”
Me and Atin (Well, Allah has sent us this helpful Indonesian guy right after we asked for it!) “Mas,disini ada KFC ga ya?”
Him “Ada sih, tapi enggak halal. Kan ayamnya ga disembelih pake doa.Kalo mau makan disini ada RM Indonesia, namanya Jakarta. Sekitar sini juga.Atau cari aja menu vegetarian.”
Me and Atin (mak jleb jleb. We were gonna count on KFC during our stay there. We didn’t think about how the chicken was cut. Well, Allah has sent us this religious guy right after we asked for it!”)
The conversation wascontinuing but it was insignificant so I wouldn’t write it here. Oh well, his name was Mas Yanto :) and latter in the conference that we attended, his role was as one of the photographers.
Finally, we arrived at the hotel. Backpacker Hotel. Mas Yanto took us until we met the FO. We thanked him and he left. And well well, guess what! The FO was soooo good looking and he looked like a Taiwanese guy. And when we started speaking in English mentioning our booking, he replied “Oh, ini mBaknya yang Dari InDonesia ya??” He sounded so very very medok!
Me and Atin (jegleeerrrr!Staring each other) “Masnya bisa Bahasa Indonesia?”
Him “Saya orang InDonesia mBak, Cuma uDah empat tahun tinGGal Disini.”
Bla bla bla..
Me and Atin (Another Alhamdullillah!)
Well then, there was another amazing thing which happened to me during my stay in Taichung. I am not gonna write it here though (it's too personal huhuhu). Thus, I am just gonna skip the story and continue it with the one in Taipei. It's just ehmmm,, Allah is very awesome!!!!!
| Me in front of Chiang Kai Shek. What a beautiful park! |
![]() |
| Atin, Me, Mba Gi and Pak Li Chong |
Shortly speaking, Taipei welcomed us with rain, cats-and-dogs rain!Worse, the rain fell when Atin and I had been outside, in MRT station to ChiangKai Shek Memorial Hall. We brought neither umbrella nor rain coat. We wore no jacket. We were freezing!!!! Definitely freezing,. I even could feel my fingers getting red and rigid. We ran to one of the hall with only Taipei map as our umbrella :DWe couldn’t go to the main hall because the rain was pouring so heavily and made the map wet. Thus we just took pictures and decided to leave and find a shop selling umbrella. However, this was when a miracle started to happen and we couldn’t thank Allah enough for this!
We met these three people, Pak Li Chong, Mbak Giyarti, dan Mbak Maryamah. Mbak Gi dan Mbak Mar came from Indonesia, Banjarnegara precisely. Mbak Gi has lived in Taiwan for 13 years. She got married with Pak Li Chong and had two kids, handsome Ahong and beautiful Ithing (Forgive me if I wrote the names wrongly). She has a very good Mandarin. Meanwhile mbak Mar was on a holiday from her work in Hongkong. Well, when they saw our Indonesian faces, they came to us. We chatted and they then figured out how unlucky we were that morning. Finally, Pak Li Chong gave us his umbrella.They became our guide tour that day. They took us to the main hall where we could see Sun Yat Sen statue with its alive handsome soldiers :p We walked around from one floor to the others. After that, we went to an underground mall in Taipei Main Station. They bought us Mie Sapi which made us so full! After that, they took us home, well, their home. We sat for a while and then Mbak Gi started to move to her kitchen. We cooked fried rice and bakwan. When we were about to leave her house, she gave us jackets to warm us on our way back hotel. Besides, she also wrapped the food for us because she knew how difficult it was to find halal food.
Not only did she gave us food and jacket, she (together with Pak Li Chong, Ahong, and Ithing) also took us to our next destination: One O One Tower. Pak Li Chong even saved me when I was lost for a while and almost got trapped in between an MRT door. Shame on me :D Shame shame! Well, before visiting the tower,they took us to a bus station and told us how to buy the bus ticket to go to the airport. Pak Li Chong wrote a note in Kanji letter to ease us in buying on the following day.How sweet it was! After going to the tower, we went back to MRT station to go home. We went our separate ways at Taipei Main Station. There, we shook hand and I cried, literally. I missed home and I felt that I found home on that day.Thus when we were separating, I felt so sad. They were so kind to us, even though we were strangers. Atin laughed at me when seeing me cry, but then, she also cried :D I told her not to cry but we kept on crying. We cried while we were standing in an MRT. Two Indonesian girls in hair-cover, among those Taiwanese(s), stood and cried together. How touching (or miserable actually?)! Hahahahahah
Oh and one more! When we were already at the airport on the following day, Mba Gi sent us a message “Aduh dek, saya tu kemaren ngangetin udang di microwave untuk kalian bawa pulang. Tapi saya bener-bener lupa. Maaf ya.” And reading such message, Atin and I stared each other and were like speechless and didn’t know what to say to her. We can never thank you enough, Mbak :) And eventually, we can never ever ever thank you enough, Allah :)
Langganan:
Postingan (Atom)

