Pagi temans! How are you feeling this morning? Semoga selalu sehat dan sejahtera! aamiin. Well, sebenarnya saya lagi mau nulis pendahuluan untuk makalah yang terjadwal deadline minggu depan, tapi godaan untuk buka media sosial begitu besarnya hahaha.
Nah, tengok-tengok blog kok ternyata saya udah lama ngga nulis ya huhuhu. Saya jadi kepikiran tentang ban bocor yang saya alami beberapa hari yang lalu. Untungnya sih waktu itu cuma di rumah dan tetangga ada yang bisa nambal ban, jadi ngga begitu repot. Berbeda dengan kejadian ban bocor yang saya alami beberapa saat sebelumnya. Ehmm, mungkin tepatnya beberapa tahun yang lalu waktu saya masih tahun-tahun pertama kuliah S1! haha, udah lama banget!
Waktu itu, saya baru pulang dari kampus dan sudah sempet beli makan siang sama mampir ambil laundry yang banyaaaakk banget! Well, sedikit pencitraan ya, sebenernya saya ngga sering laundry kok. Kebetulan waktu itu lagi banyak agenda di kampus, terkait sama organisasi yang saya ikuti. Jadilah cucian numpuk dan ngga punya waktu hohoho *alesan*
Back to topic, saya inget banget kejadian waktu itu terjadi jam 12 siang, tepat ketika matahari bersinar dengan sangat teriknya. Untungnya si tambal ban juga ngga jauh. Saya dorong-dorong motor, dengan tas laundry segede gaban dan perut kosong. Errrr,, padahal 1 jam setelahnya, saya harus balik ke kampus untuk jaga stand pendaftaran acara lomba yang kami adakan. Belum makan, belum sholat, belum nambal ban. So, untuk menghemat waktu, saya bilang sama tukang tambal bannya kalo nambalnya ditinggal saja dan saya akan kembali 45 menit kemudian. Si mas tambal membolehkan dan berjalanlah saya meninggalkan TKP. Jarak antara tempat tambal dan kos sih sebenernya ngga begitu jauh kalo naik motor, cuma 1 km. Tapi karena saya ngga biasa jalan, perut lapar, panas terik, bawaan banyak, sukseslah saya ngos-ngosan dan lemes. Tapi Alhamdulillah ngga sampai pingsan hihihi.
Singkat cerita, saya ngaso sebentar, minum, makan, sholat, siap-siap kembali ke kampus dengan jalan kaki terlebih dahulu ke tempat tambal ban. 45 menit cukup lah untuk menyelesaikan tambalannya ya?
Tapiiii,, when I arrived at that place, the man had not finished fixing my tire! Errrrr,,
Aku "Lhoh, belum selesai tho mas?" (dengan nada kecewa)
Masnya "Kurang dua lagi mbak."
Aku "Hah? Lha emang bocor berapa?"
Masnya "8 lubang mbak."
Aku "%&Q%#^Q%#Q&#Q^#*^"
Well, aku tambah shocked dong. DELAPAN lubang cuy! DELAPAN. Kalo dtambah dua lubang lagi jadi sepuluh. Kalo tambah tiga, jadi sebelas! Haahahha,, malah berhitung. Dan aku pun feeling sorry for him juga karena harus membuatnya menambal sebanyak itu. Dan setelahnya aku menjadi jahat padanya dengan berkata "Ehmmm mas, kalo lubangnya 8, mending diganti ban baru aja." wkwkwkwkw,, ya gimana dong? Delapan gitu lho! Tapi saya lebihin kok bayarnya, jadi ngga jahat-jahat amat dong ya *another-excuse* Hahahaha. Sekian dan terima kasih.
Tampilkan postingan dengan label Ngakak Dulu Yuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngakak Dulu Yuk. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 September 2014
Sabtu, 23 Agustus 2014
Kartu dan Satpam
Tadi sore, saya nganter mamak belanja kebutuhan sehari-hari yang menipis. Kebetulan banget pas lebaran kemarin dapat voucher belanja di Swalayan Purnama. Berangkatlah kami berdua selepas sholat ashar.
Sampai di swalayan tersebut, kami parkir motor terus lihat-lihat wilayah baju dulu. Niatnya sih mau mencarikan kebaya buat dipakai simbok pas hari spesial saya nanti. Eh ternyata tidak ada. Yang ada cuma kebaya anak-anak muda yang gaul gitu. Masak iya simbok yang sudah lebih 60 tahun disuruh pakai kebaya seperti itu? Ngga kebayang deh. So, akhirnya kami nyari-nyari sesuatu yang bisa kami pakai sendiri xixi. Saya dapat beberapa kerudung, mamak dapat celana, beberapa kerudung, dan beberapa leggings. Not bad. Dan mbaknya membungkus belanjaan kami dalam dua plastik. Terdengar banyak ya karena jadi dua plastik? Padahal nggak kok, I swear!
Selanjutnya, kami pergi ke bagian kebutuhan harian. Pas mamak ambil keranjang belanja, saya nitipin tas-tas plastik tersebut di penitipan barang biar belanjanya nggak rempong. Setelah itu, saya juga ambil keranjang belanja sendiri dong :D Pas belanja tadi, kami bagi tugas supaya cepat selesai dan bisa segera pulang. Sudah sore banget soalnya. Sabun mandi, sabun cuci piring, detergen, odol, shampo, minyak, pembalut, kapas, tisu, masker, lulur, saput bedak, cemilan, citrid acid, de el el de es be sudah masuk di kedua keranjang kami. Selanjutnya, ngantri bayar. Well, ngga begitu antri sih alhamdulillah :)
Nah pas tiba giliran kami bayar, kami langsung naruh dua keranjang di depan mbak kasirnya. Dan untuk hemat waktu, saya pergi sebentar untuk ambil titipan barang. Eh ternyata petugasnya tidak ada; yang ada cuma satpam. Trus saya serahkan kartu yang tadi ada di saku rok ke satpam tersebut. Bapaknya terlihat agak bingung juga. Tapi untungnya saya ingat wujud barang titipan saya. Trus diambilin deh. Setelah bilang "Makasih ya, Pak," saya langsung pergi dan kembali ke bagian kasir. Tapi ternyata ngitungnya belum selesai. Errrrr.
Tidak lama kemudian, saya melihat si bapak satpam tadi berjalan ke arah kami. Terus saya lihat arah penitipan barang. Ternyata si mbak petugas sudah datang, jadi kupikir si satpam bebas tugas dari sana dan bisa membantu mbak kasir packing belanjaan kami ke kardus trus bisa cepat kelar deh. Dan apa? I thought I was right ketika pak satpam mendatangi kami. However, si bapak kok tidak berhenti di samping kerdus *saya kecewa* melainkan di samping saya *eh?* Bapaknya bilang, "Mbak, ini kartu parkir." (Sambil menunjukkan kartu yang tadi saya serahkan untuk ambil barang). *nguk*
Saya "Eh, iya ya Pak? Aduh maaf, jarang belanja disini." (Sambil merogoh saku menahan malu di depan pengantri kasir) "Ini Pak kartu titipannya. Maaf ya." Dan si bapak pun balik badan meninggalkan tempat kejadian memalukan dengan senyum mengejeknya Wkwkwkwkwk
Begitulah, teman-teman. Seharian tadi saya habiskan waktu di rumah, tapi sekalinya pergi ke luar meski cuma sebentar, adaaaa saja kejadian yang 'berkesan.' :p
Sampai di swalayan tersebut, kami parkir motor terus lihat-lihat wilayah baju dulu. Niatnya sih mau mencarikan kebaya buat dipakai simbok pas hari spesial saya nanti. Eh ternyata tidak ada. Yang ada cuma kebaya anak-anak muda yang gaul gitu. Masak iya simbok yang sudah lebih 60 tahun disuruh pakai kebaya seperti itu? Ngga kebayang deh. So, akhirnya kami nyari-nyari sesuatu yang bisa kami pakai sendiri xixi. Saya dapat beberapa kerudung, mamak dapat celana, beberapa kerudung, dan beberapa leggings. Not bad. Dan mbaknya membungkus belanjaan kami dalam dua plastik. Terdengar banyak ya karena jadi dua plastik? Padahal nggak kok, I swear!
Selanjutnya, kami pergi ke bagian kebutuhan harian. Pas mamak ambil keranjang belanja, saya nitipin tas-tas plastik tersebut di penitipan barang biar belanjanya nggak rempong. Setelah itu, saya juga ambil keranjang belanja sendiri dong :D Pas belanja tadi, kami bagi tugas supaya cepat selesai dan bisa segera pulang. Sudah sore banget soalnya. Sabun mandi, sabun cuci piring, detergen, odol, shampo, minyak, pembalut, kapas, tisu, masker, lulur, saput bedak, cemilan, citrid acid, de el el de es be sudah masuk di kedua keranjang kami. Selanjutnya, ngantri bayar. Well, ngga begitu antri sih alhamdulillah :)
Nah pas tiba giliran kami bayar, kami langsung naruh dua keranjang di depan mbak kasirnya. Dan untuk hemat waktu, saya pergi sebentar untuk ambil titipan barang. Eh ternyata petugasnya tidak ada; yang ada cuma satpam. Trus saya serahkan kartu yang tadi ada di saku rok ke satpam tersebut. Bapaknya terlihat agak bingung juga. Tapi untungnya saya ingat wujud barang titipan saya. Trus diambilin deh. Setelah bilang "Makasih ya, Pak," saya langsung pergi dan kembali ke bagian kasir. Tapi ternyata ngitungnya belum selesai. Errrrr.
Tidak lama kemudian, saya melihat si bapak satpam tadi berjalan ke arah kami. Terus saya lihat arah penitipan barang. Ternyata si mbak petugas sudah datang, jadi kupikir si satpam bebas tugas dari sana dan bisa membantu mbak kasir packing belanjaan kami ke kardus trus bisa cepat kelar deh. Dan apa? I thought I was right ketika pak satpam mendatangi kami. However, si bapak kok tidak berhenti di samping kerdus *saya kecewa* melainkan di samping saya *eh?* Bapaknya bilang, "Mbak, ini kartu parkir." (Sambil menunjukkan kartu yang tadi saya serahkan untuk ambil barang). *nguk*
Saya "Eh, iya ya Pak? Aduh maaf, jarang belanja disini." (Sambil merogoh saku menahan malu di depan pengantri kasir) "Ini Pak kartu titipannya. Maaf ya." Dan si bapak pun balik badan meninggalkan tempat kejadian memalukan dengan senyum mengejeknya Wkwkwkwkwk
Begitulah, teman-teman. Seharian tadi saya habiskan waktu di rumah, tapi sekalinya pergi ke luar meski cuma sebentar, adaaaa saja kejadian yang 'berkesan.' :p
Jumat, 22 Agustus 2014
Kegalauan ini ternyata tidak nyata!
Well, tulisan yang mau saya tulis ini mungkin sudah diketahui oleh beberapa teman yang sering berinteraksi sama saya. Tapi tak apalah. Tujuannya kan biar yang tau kisah saya semakin banyak. Biar makin terkenal gitu. Siapa tau nanti berguna kalo ada program Endang for RI1 2019 haha! *devil*
Anyway, here goes the story which happened in Ramadhan several years ago. Waktu itu saya dan teman saya JJS a.k.a jalan-jalan sore di Malioboro Mall. FYI, waktu itu saya masih muda ya, jadi ala-ala anak gaul gitu kan, ngabuburitnya di mall. Ehmm, untuk ukuran zaman itu, hal tersebut tetep masuk kategori gaul meskipun ngga kena sindrom cabe-cabean. Ya gimana, zaman segitu mah sindrom itu belum muncul! *irrelevant*
Back to topic, waktu kami masuk Malioboro Mall, niatnya sih kami mau cuci mata lihat sepatu dan baju, eh tapi malah justru dengar suara anak kecil nangis. Errrrr. Tapi bukaaaan, bukan hantu! Suara itu ada sumbernya kok. Ada seorang anak kecil bule, berdiri sendirian dan nangis. Usianya mungkin 5 tahunan? Well, orang-orang di sekitar cuma ngelihatin aja sambil lewat. Mungkin mau nyapa tapi terkendala bahasa kali ya? Mungkin lho yaaaa.
Nah, kami observasi dulu nih, apakah di sekitarnya ada tampang-tampang bule yang mungkin jadi bapak emaknya. Ternyata nihil. Ish ish ish. Jadilah saya merasa memiliki tanggung jawab moral selaku mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris untuk mencoba mengajak komunikasi. Who knows kalo si anak ini adalah native English kan. So, saya membuat keputusan untuk kabur! Iya! Saya melarikan diri dari tempat sepatu dan pindah ke arah anak itu. Hehehe. Keren kan? I know. Im also so proud of myself *ehm*
I came closer to him and asked, "Hey whats up? Why are you crying?" Dan terima kasih Allah, he spoke English!
Him "I lost my mom." (Sobbing)
Dan I swear, saya melihat secercah harapan terpancar dari matanya sesaat setelah saya ajak bicara *terharu*
Me "Oh Im sorry. *muka prihatin* Ehmm, dont worry though. Just stay here and I'll contact the security. Okay?"
Dia mengangguk, trus saya cari satpam deh.
Satpam ngasih saran untuk pergi ke bagian informasi. Trus disana, saya bikin pengumuman dalam dua bahasa yang intinya ada anak bule yang ilang dari ibuknya dan sekarang lagi sama saya. Yang merasa kehilangan, silakan datang di Jco Malioboro Mall. Nah setelah itu, kami ngajakin si bule kecil, saya ngga inget namanya hiks, ke Jco.
Setelah pilih-pilih donat, dia makan, kami perhatiin aja karena belum buka puasa. Perut saya (dan teman saya juga kayaknya) sedikit berontak, tapi kami baik-baik saja. Kami rapopo! Sampai akhirnya ada ibuk bule yang datang sambil menangis dan langsung memeluk anaknya itu. Awww, so touching. Trus akhirnya kami ngobrol sebentar dan kami pamitan karena mau nyari makan buat buka puasa kan. Nah, pas kami mau pergi itu, si ibuk bule bilang "Wait a second. I have something." Trus dia ambil sesuatu dari tasnya. Dan apakah teman-teman memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan waktu itu? Yes yes. She was about to give me money! Awww, so sweet! Hahahaa..
Tapi guess what, saya jadi galau. Lha gimana? Dari SD sampe SMA saya dapet pelajaran PPKN yang intinya kalo bantuin orang itu jangan pamrih, jangan mengharap imbalan. Jadi gimana dong? Kalo diambil, takut menciderai prinsip PPKN itu *tsaaahhh* Kalau nggak diambil ya sayang. Bisa buat beli baju baru pas lebaran. *eh*
Dan apakah kalian tau apa yang terjadi setelahnya? Well, pretty sad. Sebelum saya sempat memutuskan apakah menerima atau menolak, saya pun terbangun. Sekian.
Anyway, here goes the story which happened in Ramadhan several years ago. Waktu itu saya dan teman saya JJS a.k.a jalan-jalan sore di Malioboro Mall. FYI, waktu itu saya masih muda ya, jadi ala-ala anak gaul gitu kan, ngabuburitnya di mall. Ehmm, untuk ukuran zaman itu, hal tersebut tetep masuk kategori gaul meskipun ngga kena sindrom cabe-cabean. Ya gimana, zaman segitu mah sindrom itu belum muncul! *irrelevant*
Back to topic, waktu kami masuk Malioboro Mall, niatnya sih kami mau cuci mata lihat sepatu dan baju, eh tapi malah justru dengar suara anak kecil nangis. Errrrr. Tapi bukaaaan, bukan hantu! Suara itu ada sumbernya kok. Ada seorang anak kecil bule, berdiri sendirian dan nangis. Usianya mungkin 5 tahunan? Well, orang-orang di sekitar cuma ngelihatin aja sambil lewat. Mungkin mau nyapa tapi terkendala bahasa kali ya? Mungkin lho yaaaa.
Nah, kami observasi dulu nih, apakah di sekitarnya ada tampang-tampang bule yang mungkin jadi bapak emaknya. Ternyata nihil. Ish ish ish. Jadilah saya merasa memiliki tanggung jawab moral selaku mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris untuk mencoba mengajak komunikasi. Who knows kalo si anak ini adalah native English kan. So, saya membuat keputusan untuk kabur! Iya! Saya melarikan diri dari tempat sepatu dan pindah ke arah anak itu. Hehehe. Keren kan? I know. Im also so proud of myself *ehm*
I came closer to him and asked, "Hey whats up? Why are you crying?" Dan terima kasih Allah, he spoke English!
Him "I lost my mom." (Sobbing)
Dan I swear, saya melihat secercah harapan terpancar dari matanya sesaat setelah saya ajak bicara *terharu*
Me "Oh Im sorry. *muka prihatin* Ehmm, dont worry though. Just stay here and I'll contact the security. Okay?"
Dia mengangguk, trus saya cari satpam deh.
Satpam ngasih saran untuk pergi ke bagian informasi. Trus disana, saya bikin pengumuman dalam dua bahasa yang intinya ada anak bule yang ilang dari ibuknya dan sekarang lagi sama saya. Yang merasa kehilangan, silakan datang di Jco Malioboro Mall. Nah setelah itu, kami ngajakin si bule kecil, saya ngga inget namanya hiks, ke Jco.
Setelah pilih-pilih donat, dia makan, kami perhatiin aja karena belum buka puasa. Perut saya (dan teman saya juga kayaknya) sedikit berontak, tapi kami baik-baik saja. Kami rapopo! Sampai akhirnya ada ibuk bule yang datang sambil menangis dan langsung memeluk anaknya itu. Awww, so touching. Trus akhirnya kami ngobrol sebentar dan kami pamitan karena mau nyari makan buat buka puasa kan. Nah, pas kami mau pergi itu, si ibuk bule bilang "Wait a second. I have something." Trus dia ambil sesuatu dari tasnya. Dan apakah teman-teman memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan waktu itu? Yes yes. She was about to give me money! Awww, so sweet! Hahahaa..
Tapi guess what, saya jadi galau. Lha gimana? Dari SD sampe SMA saya dapet pelajaran PPKN yang intinya kalo bantuin orang itu jangan pamrih, jangan mengharap imbalan. Jadi gimana dong? Kalo diambil, takut menciderai prinsip PPKN itu *tsaaahhh* Kalau nggak diambil ya sayang. Bisa buat beli baju baru pas lebaran. *eh*
Dan apakah kalian tau apa yang terjadi setelahnya? Well, pretty sad. Sebelum saya sempat memutuskan apakah menerima atau menolak, saya pun terbangun. Sekian.
Mau minum apa, Mbak?
Rabu malam yang lalu, saya dan teman saya, mbak Tatik, kencan berdua. Well, sebenarnya cuma keluar cari makan saja sih. Kami mau mencicipi Mie Lethek di Ringroad utara. Selain itu, saya kan juga lagi ikut kompetisi ide bisnis, dan kebetulan idenya ada kemiripan sama Mie Lethek ini. Jadi, sekalian observasi "threat" gitu xoxo.
Singkat cerita, kami sampai di lokasi resto setelah terjebak macet lumayan panjang di Jalan Gejayan dan kesasar sejauh 100 meter (kesasar is my middle name, by the way :p). Sewaktu datang, kami memperhatikan beberapa hal: semua pelayannya adalah bapak-bapak usia setengah baya dan memakai blangkon, pembelinya menengah ke atas krn ada banyak mobil, dan harga menunya juga ngga begitu masuk kategori makanan harian kami xixi.
Saya memilih menu plecing godog dan mbak Tatik memilih mie godog. Untuk minumnya, mbak Tatik memilih wedang jahe karena dia kedinginan. Sementara saya? Masih mikir-mikir sembari tanya ke bapak berblangkon "Wedang jahenya ini panas ya, Pak?"
Bapaknya "Iya mbak. Biar anget."
Saya "Nggak bisa gitu dikasih es?"
Bapaknya "Cuma panas aja e mbak."
Saya "Kalo wedang uwuh, itu yang banyak daun-daun kering yang dari Imogiri itu kan? Sama?"
Bapaknya "Iya mbak. Sama. Panas juga."
Saya "Kalo wedang secang, pak?"
Bapaknya "Itu warnanya merah mbak."
Saya "Oh ini dibuat dari daun secang itu kah? Kayak pernah dengar."
Bapaknya "Betul sekali mbak."
Saya "Ehmmm, kalo gitu saya pesan es jeruk pak!"
Bapaknya "*&??":$^$&$!"
Singkat cerita, kami sampai di lokasi resto setelah terjebak macet lumayan panjang di Jalan Gejayan dan kesasar sejauh 100 meter (kesasar is my middle name, by the way :p). Sewaktu datang, kami memperhatikan beberapa hal: semua pelayannya adalah bapak-bapak usia setengah baya dan memakai blangkon, pembelinya menengah ke atas krn ada banyak mobil, dan harga menunya juga ngga begitu masuk kategori makanan harian kami xixi.
Saya memilih menu plecing godog dan mbak Tatik memilih mie godog. Untuk minumnya, mbak Tatik memilih wedang jahe karena dia kedinginan. Sementara saya? Masih mikir-mikir sembari tanya ke bapak berblangkon "Wedang jahenya ini panas ya, Pak?"
Bapaknya "Iya mbak. Biar anget."
Saya "Nggak bisa gitu dikasih es?"
Bapaknya "Cuma panas aja e mbak."
Saya "Kalo wedang uwuh, itu yang banyak daun-daun kering yang dari Imogiri itu kan? Sama?"
Bapaknya "Iya mbak. Sama. Panas juga."
Saya "Kalo wedang secang, pak?"
Bapaknya "Itu warnanya merah mbak."
Saya "Oh ini dibuat dari daun secang itu kah? Kayak pernah dengar."
Bapaknya "Betul sekali mbak."
Saya "Ehmmm, kalo gitu saya pesan es jeruk pak!"
Bapaknya "*&??":$^$&$!"
Sabtu, 16 Agustus 2014
Cerita Wisudaku: Part 1
Wisudaku yang kedua, yaitu pada level pascasarjana, dilaksanakan tanggal 14 Agustus 2014 di Grha Sabha Pramana UGM. Nah, persiapan wisuda kali ini tidak serempong waktu wisuda sarjana dulu. Entah kenapa, perasaannya biasa saja. Apa karena tidak cumlaude? Atau karena tidak disuruh pidato? Wkwkwk,, entahlah.
So, persiapan wisuda kali ini semuanya dilakukan serba apa adanya dan tidak begitu well-planned. Tapi alhamdulillah sempet juga bikin satu long dress, yang harus bolak/balik divermak karena tidak sesuai harapan. Yang aku suka dari dress nya adalah lingkaran bawah roknya sangat lebar namun kainnya tetap jatuh. Suka dengan jatuhnya. Tapiiiii,, pas gladi resik wisudanya, saya baru ngeh kalo pas dipanggil untuk ngambil ijazah dari tangan pak Dekan itu ada adegan naik tangga dan kemudian turun lagi. Seketika itu juga, saya jadi kena serangan parno -parno kalo kesrimpet atau kesandung dan jatuh di depan para akademisi. Kan bisa malu tujuh turunan kalo sampe itu terjadi! Akhirnya rencana antisipasinya adalah dengan "mencincingkan" (mengangkat) roknya.
Saat hari H, saya berangkat bersama dua sahabat saya, Siska dan Dewi, naik taksi dari salon. Kami sampai di GSP pukul 6 lebih, disuruhnya sih pukul 6, tapi ternyata masuknya pukul 7 lebih errrrr. Padahal saya sudah bangun dan mandi dari jam 3 demi supaya tidak telat! Minum susu pun tak sempat *nangis*
Well, kami semua sudah berada di dalam gedung pada pukul 7.30. Acara dimulai pukul 8 tet. Nothing special disini. Saya dan teman-teman malah ngobrol satu sama lain dan selfie-selfie gitu. Sampai akhirnya, tiba saat giliran fakultas kami dipanggil untuk mengambil ijazah. Dalam hati mulai deg-deg-an dan berdoa "Ya Allah, lancarkan lancarkan. Izinkan saya untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Izinkan saya untuk tidak kesrimpet. Aamiin." Akhirnya, Endang Setyowati dipanggil. Jalan pelan-pelan naik tangga panggung, sambil mencincingkan rok lebar saya. Salaman sama pak dekan. Senyum kaku. Jalan pelan-pelan turun tangga sambil kembali mencincingkan rok. Daaaaaannnnnn apa yang terjadi?? Saya tiba kembali di kursi duduk nomer 18 dengan selamat! Yey! Hahahahaha.. jadi Alhamdulillah yang pertama kali saya ucapkan adalah krn Allah tidak membiarkan saya kesrimpet dan jatuh :p Legaaaaaa. Saya berhasil menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, dan jurusan :D
Selanjutnya, ada kisah sedih yang terjadi sebelum acara berlanjut di fakultas. Tapi saya tulis nanti di posting lain saja. Supaya tidak kepanjangan disini. See you later!
So, persiapan wisuda kali ini semuanya dilakukan serba apa adanya dan tidak begitu well-planned. Tapi alhamdulillah sempet juga bikin satu long dress, yang harus bolak/balik divermak karena tidak sesuai harapan. Yang aku suka dari dress nya adalah lingkaran bawah roknya sangat lebar namun kainnya tetap jatuh. Suka dengan jatuhnya. Tapiiiii,, pas gladi resik wisudanya, saya baru ngeh kalo pas dipanggil untuk ngambil ijazah dari tangan pak Dekan itu ada adegan naik tangga dan kemudian turun lagi. Seketika itu juga, saya jadi kena serangan parno -parno kalo kesrimpet atau kesandung dan jatuh di depan para akademisi. Kan bisa malu tujuh turunan kalo sampe itu terjadi! Akhirnya rencana antisipasinya adalah dengan "mencincingkan" (mengangkat) roknya.
Saat hari H, saya berangkat bersama dua sahabat saya, Siska dan Dewi, naik taksi dari salon. Kami sampai di GSP pukul 6 lebih, disuruhnya sih pukul 6, tapi ternyata masuknya pukul 7 lebih errrrr. Padahal saya sudah bangun dan mandi dari jam 3 demi supaya tidak telat! Minum susu pun tak sempat *nangis*
Well, kami semua sudah berada di dalam gedung pada pukul 7.30. Acara dimulai pukul 8 tet. Nothing special disini. Saya dan teman-teman malah ngobrol satu sama lain dan selfie-selfie gitu. Sampai akhirnya, tiba saat giliran fakultas kami dipanggil untuk mengambil ijazah. Dalam hati mulai deg-deg-an dan berdoa "Ya Allah, lancarkan lancarkan. Izinkan saya untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Izinkan saya untuk tidak kesrimpet. Aamiin." Akhirnya, Endang Setyowati dipanggil. Jalan pelan-pelan naik tangga panggung, sambil mencincingkan rok lebar saya. Salaman sama pak dekan. Senyum kaku. Jalan pelan-pelan turun tangga sambil kembali mencincingkan rok. Daaaaaannnnnn apa yang terjadi?? Saya tiba kembali di kursi duduk nomer 18 dengan selamat! Yey! Hahahahaha.. jadi Alhamdulillah yang pertama kali saya ucapkan adalah krn Allah tidak membiarkan saya kesrimpet dan jatuh :p Legaaaaaa. Saya berhasil menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, dan jurusan :D
Selanjutnya, ada kisah sedih yang terjadi sebelum acara berlanjut di fakultas. Tapi saya tulis nanti di posting lain saja. Supaya tidak kepanjangan disini. See you later!
Selasa, 12 Agustus 2014
Aku Dapat Bunga! Tapiiii,,
Pagi-pagi sudah cantik dan wangi, dan sudah ada di dalam Grha Sabha Pramana (GSP) UGM untuk gladi bersih wisuda. Yey! Saya mau wisuda, ikut yang periode 14 Agustus 2014.
Nah, karena suasananya tentang wisuda, saya jadi inget sebuah kejadian pas wisuda S1, sekitar 3 tahun yang lalu (27 September 2011 kalo tidak salah).
Waktu itu, saya berangkatnya diantar teman dari kos dan orangtua saya berangkat dari rumah. Kami janjian untuk ketemuan di stand foto *ehem* mantan saya dulu. Jam 6.30 saya sudah datang. Foto-foto dulu. Gratis. Sepuasnya haha! Nah, ngga lama setelah itu, orangtua saya datang. Pertama saya lihat mamak, yang datang dengan kebaya kuning cantik, dengan make-up harian (seperti saat pergi ke kantor). Mamak datang membawa bunga, dengan mata berkaca-kaca (huhuhu, pagi-pagi udah terharu), dan berkata "Anakku endi anakku endi?" Trus saya jadi pengen nangis waktu itu, tapi saya becandain aja. Lha gimana, bisa-bisa muka cantik saya (karena make-up) jadi luntur! Kan ngga asoy geboy! Saya bilang "Halah, isuk-isuk kok mpun nangis. Nangis ki mangke pas kulo pidato. Huu."
Mamak jadi ketawa setelah itu. Trus dia ngasih bunga ke saya. Saya kaget juga. Kok tumben ada bunga segala. Romantis amat? Saya tanya deh "Lhah, kok tumben kembang-kembangan barang?"
Mamak jawab, "Iyo, mau ki tak pikir diwei gratis, jebule mbayar! Wes kebacut."
Tepokjidatdulu!
Nah, karena suasananya tentang wisuda, saya jadi inget sebuah kejadian pas wisuda S1, sekitar 3 tahun yang lalu (27 September 2011 kalo tidak salah).
Waktu itu, saya berangkatnya diantar teman dari kos dan orangtua saya berangkat dari rumah. Kami janjian untuk ketemuan di stand foto *ehem* mantan saya dulu. Jam 6.30 saya sudah datang. Foto-foto dulu. Gratis. Sepuasnya haha! Nah, ngga lama setelah itu, orangtua saya datang. Pertama saya lihat mamak, yang datang dengan kebaya kuning cantik, dengan make-up harian (seperti saat pergi ke kantor). Mamak datang membawa bunga, dengan mata berkaca-kaca (huhuhu, pagi-pagi udah terharu), dan berkata "Anakku endi anakku endi?" Trus saya jadi pengen nangis waktu itu, tapi saya becandain aja. Lha gimana, bisa-bisa muka cantik saya (karena make-up) jadi luntur! Kan ngga asoy geboy! Saya bilang "Halah, isuk-isuk kok mpun nangis. Nangis ki mangke pas kulo pidato. Huu."
Mamak jadi ketawa setelah itu. Trus dia ngasih bunga ke saya. Saya kaget juga. Kok tumben ada bunga segala. Romantis amat? Saya tanya deh "Lhah, kok tumben kembang-kembangan barang?"
Mamak jawab, "Iyo, mau ki tak pikir diwei gratis, jebule mbayar! Wes kebacut."
Tepokjidatdulu!
Kaos Kaki
Nambah kisah ah!
Cerita yang akan saya bagi ini terjadi kemaren sore pas saya pulang dari Elizabeth, membeli clutch untuk kondangan. Keluar dari toko tersebut, saya mampir sejenak di penjual kaos kaki yang mangkal di trotoar di dekatnya. Singkat cerita, saya membeli 6 kaos kaki: harganya ada yang 7 ribuan, 8 ribuan dan 9 ribuan. Setelah memilih, saya meminta diskon. Biasa, sebagai calon ibu yang baik dan benar, saya harus punya skill tawar menawar dong :p Sama bapaknya dikasi diskon 500 per item untuk yang harga 9 ribuan, tapi yang lain ngga bisa diturunin lagi. Harga pas katanya. Huufff. Mikir-mikir lagi gimana cara nawarnya, tapi mentog wkwkw. Akhirnya saya iya-in deh penawaran bapaknya.
Setelah itu, bapaknya menghitung-hitung total uangnya. Terlihat ribeeeet sekali. Akhirnya saya punya celah untuk menawar lagi.
"Udah pak, daripada ribet seperti itu, mendingan ini (nunjuk 3 kaos kaki seharga 7 ribuan) dihitung 21rb saja. Trus ini (nunjuk 1 kaos kaki 8rb dan 2 kaos kaki 9rb) dihitung 24rb. Jadi satunya dhitung 8rb. Totalnya 35rb. Kan praktis tho?"
Bapaknya mikir sejenak, trus menyerah "Iya deh mbak, ngga apa2."
Yey! Berhasil *Im so proud of myself* Trus saya ambil uang 50ribu, dan dikasih kembalian 15ribu sama bapaknya. Setelah itu saya langsung pulang.
Tapiiiiii,, pas sudah sampe gang menuju kos, saya tiba-tiba jadi kepikiran. "35rb dibagi 6 kan 6 ribu an kurang ya? Kok bs jdi murah banget? Bukannya tadi harganya 7rb an dan 8rb an" Saya hitung lagi deh "Ehmmm, 21 tambah 24 kan 45!!!!! Bukan 35 tapi 45!!!" *plaaaakkk* Mau balik lagi tapi males, kalo ngga balik kasian bapaknya. Hiks hiks. Akhirnya I decided to come back there the next afternoon. Daaaaannn, by the time I wrote this story, saya baru saja pulang dari nyaur utang ke bapaknya lho! Xoxoxo
Cerita yang akan saya bagi ini terjadi kemaren sore pas saya pulang dari Elizabeth, membeli clutch untuk kondangan. Keluar dari toko tersebut, saya mampir sejenak di penjual kaos kaki yang mangkal di trotoar di dekatnya. Singkat cerita, saya membeli 6 kaos kaki: harganya ada yang 7 ribuan, 8 ribuan dan 9 ribuan. Setelah memilih, saya meminta diskon. Biasa, sebagai calon ibu yang baik dan benar, saya harus punya skill tawar menawar dong :p Sama bapaknya dikasi diskon 500 per item untuk yang harga 9 ribuan, tapi yang lain ngga bisa diturunin lagi. Harga pas katanya. Huufff. Mikir-mikir lagi gimana cara nawarnya, tapi mentog wkwkw. Akhirnya saya iya-in deh penawaran bapaknya.
Setelah itu, bapaknya menghitung-hitung total uangnya. Terlihat ribeeeet sekali. Akhirnya saya punya celah untuk menawar lagi.
"Udah pak, daripada ribet seperti itu, mendingan ini (nunjuk 3 kaos kaki seharga 7 ribuan) dihitung 21rb saja. Trus ini (nunjuk 1 kaos kaki 8rb dan 2 kaos kaki 9rb) dihitung 24rb. Jadi satunya dhitung 8rb. Totalnya 35rb. Kan praktis tho?"
Bapaknya mikir sejenak, trus menyerah "Iya deh mbak, ngga apa2."
Yey! Berhasil *Im so proud of myself* Trus saya ambil uang 50ribu, dan dikasih kembalian 15ribu sama bapaknya. Setelah itu saya langsung pulang.
Tapiiiiii,, pas sudah sampe gang menuju kos, saya tiba-tiba jadi kepikiran. "35rb dibagi 6 kan 6 ribu an kurang ya? Kok bs jdi murah banget? Bukannya tadi harganya 7rb an dan 8rb an" Saya hitung lagi deh "Ehmmm, 21 tambah 24 kan 45!!!!! Bukan 35 tapi 45!!!" *plaaaakkk* Mau balik lagi tapi males, kalo ngga balik kasian bapaknya. Hiks hiks. Akhirnya I decided to come back there the next afternoon. Daaaaannn, by the time I wrote this story, saya baru saja pulang dari nyaur utang ke bapaknya lho! Xoxoxo
Selasa, 05 Agustus 2014
Lampu Lalu Lintas Kanan vs Kiri
Halooo! Permisi nulis kisah lagi ya. Kali ini tentang kejadian yang 15 menit lalu kualami. Nulisnya sembari nunggu motor di servis nih xoxo.
Ceritanya saya baru dari Baciro, kantor mamak-nda tersayang untuk ngambil barang. Tujuan selanjutnya Yamaha Service Center Jalan Gejayan, so saya memilih untuk ambil lajur kanan dari lampu merah UKDW dan langsung tembus jalan Solo untuk lurus ke Gejayan. Nah, seperti biasa, di lampu merah yg tembusan jalan Solo itu macet. Merambat sedikit demi sedikit akhirnya sampai depan. Tapiiii pas sudah di depan, malah lampu ijonya ganti jadi merah. Duh! Akhirnya nunggulah berdetik-detik sebelum melanjutkan perjalanan lurus. Saya perhatikan detik demi detik berganti di lampu merah sebelah kanan. Mulai 57, 56, 55, 54... 3, 2, 1, hijau! Akhirnya gas lah saya.
Tapiiiii, mata saya sempat memandang lampu merah sebelah kiri dan sialnya masih merah! Oh noooo! Sempet bingung juga tadi. Dan baru ngeh kalo untuk lurus kan harusnya lihat yang kiri *jambakrambut* Akhirnya karena malu kalo berhenti setelah nge-gas dan jalan ke depan 3 meter, saya memutuskan untuk belok kiri sambil harap-harap cemas apakah polisi yang berjaga akan mengejar saya. Alhamdulillah nya tidaaaakkk. Selamat! Hahahaha. Trus saya belok di sebelah XXI dan berputaaaaar untuk melewati lampu merah yang sama! Merambat-rambat lagi untuk sampai depan. #self-toyor
Ceritanya saya baru dari Baciro, kantor mamak-nda tersayang untuk ngambil barang. Tujuan selanjutnya Yamaha Service Center Jalan Gejayan, so saya memilih untuk ambil lajur kanan dari lampu merah UKDW dan langsung tembus jalan Solo untuk lurus ke Gejayan. Nah, seperti biasa, di lampu merah yg tembusan jalan Solo itu macet. Merambat sedikit demi sedikit akhirnya sampai depan. Tapiiii pas sudah di depan, malah lampu ijonya ganti jadi merah. Duh! Akhirnya nunggulah berdetik-detik sebelum melanjutkan perjalanan lurus. Saya perhatikan detik demi detik berganti di lampu merah sebelah kanan. Mulai 57, 56, 55, 54... 3, 2, 1, hijau! Akhirnya gas lah saya.
Tapiiiii, mata saya sempat memandang lampu merah sebelah kiri dan sialnya masih merah! Oh noooo! Sempet bingung juga tadi. Dan baru ngeh kalo untuk lurus kan harusnya lihat yang kiri *jambakrambut* Akhirnya karena malu kalo berhenti setelah nge-gas dan jalan ke depan 3 meter, saya memutuskan untuk belok kiri sambil harap-harap cemas apakah polisi yang berjaga akan mengejar saya. Alhamdulillah nya tidaaaakkk. Selamat! Hahahaha. Trus saya belok di sebelah XXI dan berputaaaaar untuk melewati lampu merah yang sama! Merambat-rambat lagi untuk sampai depan. #self-toyor
Senin, 04 Agustus 2014
Ada Lelayu
Alkisah, saya baru pulang ke rumah dari kos. Saat sampai, baru selesai mengucap salam dan dijawab sama mamak, trus mamak lanjut nyeletuk
"Aku kesripahan." (Raut wajah serius).
Aku "Hah, sinten?"
Mamak "Grameh! Mbok 8 wae ono." (Nyengir) "Saiki wes tak resiki trus tak simpen nang kulkas."
Aku "!!???@$###???"
Dalam Bahasa Indonesia, percakapan tersebut menjadi
Mamak "Ada berita lelayu." (Serius)
Aku "Hah, siapa?"
Mamak "Gurameh. Ada 8 an yang mati." (Nyengir) "Sekarang sudah dibersihin dan ditaruh kulkas."
Aku "!!???@$###???"
"Aku kesripahan." (Raut wajah serius).
Aku "Hah, sinten?"
Mamak "Grameh! Mbok 8 wae ono." (Nyengir) "Saiki wes tak resiki trus tak simpen nang kulkas."
Aku "!!???@$###???"
Dalam Bahasa Indonesia, percakapan tersebut menjadi
Mamak "Ada berita lelayu." (Serius)
Aku "Hah, siapa?"
Mamak "Gurameh. Ada 8 an yang mati." (Nyengir) "Sekarang sudah dibersihin dan ditaruh kulkas."
Aku "!!???@$###???"
Jadi, cobek itu sodara saya?
Tulisan kali ini akan saya buat pendek saja. Karena saya cuma mau menuliskan sepenggal percakapan saya dengan mamak yang kejadian pas kami lagi masak Sop Ayam Kampuang. Percakapan sebenarnya terjadi dalam Bahasa Jawa, tapi langsung saya terjemahkan saja ke dalam Bahasa Indonesia, in case ada pembaca yang ngga paham Bahasa Jawa :)
Mamak "Nih bahan sambelnya dialusin"
Aku "Oke, tak manggil cobeknya dulu (tepuk tangan 3x) Lha ngga mau kesini kok."
Mamak "Buruan tho dialusin pake sodaramu."
Aku "eh?"
Mamak "Cobek kan bikinnya dari tanah tho, jadi sodaraan sama kamu."
Aku "?#!#*##@?"
Jadi saya tau kenapa saya seperti ini. Orang Inggris bilang, "Like mother like daughter." Ya kan?
Mamak "Nih bahan sambelnya dialusin"
Aku "Oke, tak manggil cobeknya dulu (tepuk tangan 3x) Lha ngga mau kesini kok."
Mamak "Buruan tho dialusin pake sodaramu."
Aku "eh?"
Mamak "Cobek kan bikinnya dari tanah tho, jadi sodaraan sama kamu."
Aku "?#!#*##@?"
Jadi saya tau kenapa saya seperti ini. Orang Inggris bilang, "Like mother like daughter." Ya kan?
Cilacap VS Purwokerto
Yey, share cerita lagi. Tapi kali ini kejadiannya sudah kejadian sekira 3 hari yang lalu *agak basi* tapi ngga apa-apa dong ya. Tetep seru! Check this out..
Ceritanya saya mau pergi silaturahim ke Kebumen. Tepatnya Kutowinangun (tempat sahabat dekaaaaat) dan Soka (rumah camer). Naiklah bus Efisiensi dari wilayah Gamping. FYI, ini kali pertama naik fi sendirian.
Sampe di Terminal Gamping, saya langsung pede parkir motor, clingak clinguk, tapi akhirnya tanya tukang parkir "Pak, pul Efisiensi dimana ya?" Dijawab "Oh bukan disini mbak, tapi masih kesana, ketemu pom bensin, setelah pom bensin kiri jalan. Ambar Ketawang." *plak* Malu dikit tapi akhirnya jadi tau yang dimaksud Pul Ambar Ketawang hahaha *selalu ada hikmah*
So, keluarlah dr terminal ini, dan naik motor pelan-pelan nyari pom bensin. Ketemu. Selanjutnya pul efinya, ketemu juga! Yay! Im so proud of myself *ehm*
Selanjutnya, beli tiket tujuan Kebumen. Dijawab sama mbk petugasnya "Ngga ada mbk, kami ngga lewat Kebumen."
Aku bingunglah. Orang jelas-jelas temenku kalo mudik Kebumen naik Efisiensi. "Kutowinangun, mbk?"
Mbknya "Nggak lewat mbk, kami lewat jalur selatan."
Aku panik sedikit, dan membatin 'Jalur selatan tu maksudnya apa?" seriously nggak paham.
Akhirnya telepon temenku itu dan dikasi tau utk turun di Ambal. Dan akhirnya berhasil dapat tiket! Yay! Tapi 70rb *nangis* I thought 40rb hiks..
Dikasih tau untuk ikut jurusan Cilacap Bus 6 dan skrg baru Bus 4. Oke fine. 2 bus lagi. Nunggu. Datang bus 5. Batinku 'satu lagi Ndum'. Trusssss halo2nya bilang bus 6 datang. Yay! Siap berangkatttt,, naiklah aku.. nyari kursi nomer 18. Ketemu! Duduk lah manis. Tapiiiiiii,, kok ada pasangan ibuk bapak yang bilang kalo kursi mereka nomer 17-18.
Lhaaa kok isoooo? Sampe kami nyocokin tiket.. ehmmm,, sebagai yg muda, ngalah dong.. Saya ke depan dan keluar, tanya sama petugasnya. "Mas kok kursi 18 double. Ada dua org yg dpt kursi 18?" (Nunjukkin tiket).
Dijawab "busny mbak bukan yg ini."
Aku "lhah? Bus 6 kan?"
Masnya "iya mbak, tapi ini bus 6 Purwokerto. Mbaknya bus 6 Cilacap." *garuk2aspal* Oke fine. Fixed - malu. Pengalaman pertama memang begitu menggoda, bukan?
Bukan, Ndum. Hahahaha
Ceritanya saya mau pergi silaturahim ke Kebumen. Tepatnya Kutowinangun (tempat sahabat dekaaaaat) dan Soka (rumah camer). Naiklah bus Efisiensi dari wilayah Gamping. FYI, ini kali pertama naik fi sendirian.
Sampe di Terminal Gamping, saya langsung pede parkir motor, clingak clinguk, tapi akhirnya tanya tukang parkir "Pak, pul Efisiensi dimana ya?" Dijawab "Oh bukan disini mbak, tapi masih kesana, ketemu pom bensin, setelah pom bensin kiri jalan. Ambar Ketawang." *plak* Malu dikit tapi akhirnya jadi tau yang dimaksud Pul Ambar Ketawang hahaha *selalu ada hikmah*
So, keluarlah dr terminal ini, dan naik motor pelan-pelan nyari pom bensin. Ketemu. Selanjutnya pul efinya, ketemu juga! Yay! Im so proud of myself *ehm*
Selanjutnya, beli tiket tujuan Kebumen. Dijawab sama mbk petugasnya "Ngga ada mbk, kami ngga lewat Kebumen."
Aku bingunglah. Orang jelas-jelas temenku kalo mudik Kebumen naik Efisiensi. "Kutowinangun, mbk?"
Mbknya "Nggak lewat mbk, kami lewat jalur selatan."
Aku panik sedikit, dan membatin 'Jalur selatan tu maksudnya apa?" seriously nggak paham.
Akhirnya telepon temenku itu dan dikasi tau utk turun di Ambal. Dan akhirnya berhasil dapat tiket! Yay! Tapi 70rb *nangis* I thought 40rb hiks..
Dikasih tau untuk ikut jurusan Cilacap Bus 6 dan skrg baru Bus 4. Oke fine. 2 bus lagi. Nunggu. Datang bus 5. Batinku 'satu lagi Ndum'. Trusssss halo2nya bilang bus 6 datang. Yay! Siap berangkatttt,, naiklah aku.. nyari kursi nomer 18. Ketemu! Duduk lah manis. Tapiiiiiii,, kok ada pasangan ibuk bapak yang bilang kalo kursi mereka nomer 17-18.
Lhaaa kok isoooo? Sampe kami nyocokin tiket.. ehmmm,, sebagai yg muda, ngalah dong.. Saya ke depan dan keluar, tanya sama petugasnya. "Mas kok kursi 18 double. Ada dua org yg dpt kursi 18?" (Nunjukkin tiket).
Dijawab "busny mbak bukan yg ini."
Aku "lhah? Bus 6 kan?"
Masnya "iya mbak, tapi ini bus 6 Purwokerto. Mbaknya bus 6 Cilacap." *garuk2aspal* Oke fine. Fixed - malu. Pengalaman pertama memang begitu menggoda, bukan?
Bukan, Ndum. Hahahaha
Bakpia oh Bakpia
I'm back! Akhirnya sempet juga ngurusin reset password. Maklum dah, saya kan (sok) sibuk sekali?!
Well, postingan kali ini akan mengawali kisah penulisan mengenai hal-hal konyol yang doyan banget terjadi dalam hidup saya.
Misalnya kejadian hari ini. Here goes the story.
Kemaren lusa niat membeli bakpia di dekat rumah sbg oleh-oleh untuk camer (ecieh!). Biasanya datang langsung dan beli sih tdk masalah. Tapi waktu itu, kok ya stok habis. Semua sudah dipesan. Maklum, arus balik lebaran, jadi orang-orang pada beli unyuk oleh-oleh juga. Tapi beruntungnya, akhirnya saya dapet juga setelah pasang muka memelas ke budhe penjualnya. Yah, meskipun jumlahnya hanya setengah dari yg niatnya mau dibeli. Well, rejekinya segitu aja kali ya? Lumayan.
Lalu hari ini. Niat beli bakpia pesenan calon adek ipar di 145 Kusumanegara (Jalan Kusumanegara Yogyakarta) yg rasanya memang yahud aduhai sekali. Saya datang sampai di Kusumanegara jam 11.30 setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit dengan motor. Panas syekaliii. And guess what? Yernyata habis! Lucky me! Pesan ndak bisa. Ditanya kapan datang juga blm bs dipastikan krn blm ada kabar. Mau pindah merk lain tp sayang sama rasanya yg sudah cocok di lidah. Akhirnya, nunggu 15 menit sambil ngilangin panas, menenggak minuman dingin, dan becandaan sama bpk2 pegawai pen-staples-an kardus, trus akhirnya tanya sama beliau ttg cabang 145 yg lain. Dikasi tau ada di Gambiran, well sekitar 5 sampai 10 menit dg motor.
Singkatnya, berangkatlah saya kesana berbekal arahan yg dikasi bapaknya. Daaan ketemu! Tanpa nyasar! *so proud of myself* *haha!* Tapi emang nasib, sampai disana, bakpianya habis lagi *lemes* Langsung keluar dan memelas curhat sama tukang parkirnya "Bakpianya habis, Pak." *muka sendu*
Bapaknya jawab "Kusumanegaran, mbak!"
Aku "Tadi sudah dr sana, Pak."
Bpknya "Halah mbak, wong mobilnya barusan berangkat! Bawa 4 kret bakpia." *Dan seketika pengen pingsan*
Akhirnya, balik lagi ke Kusumanegaran dan Alhamdulillah dapet. Mringis sama bapak2 pen-staples kerdus dan beliau pun bilang "Kalo rejwki ngga kemana, mbak." Haha!
Yey! Jadi cerita hari ini bertajuk 'Nyetrika jalanan demi bakpia'
Well, postingan kali ini akan mengawali kisah penulisan mengenai hal-hal konyol yang doyan banget terjadi dalam hidup saya.
Misalnya kejadian hari ini. Here goes the story.
Kemaren lusa niat membeli bakpia di dekat rumah sbg oleh-oleh untuk camer (ecieh!). Biasanya datang langsung dan beli sih tdk masalah. Tapi waktu itu, kok ya stok habis. Semua sudah dipesan. Maklum, arus balik lebaran, jadi orang-orang pada beli unyuk oleh-oleh juga. Tapi beruntungnya, akhirnya saya dapet juga setelah pasang muka memelas ke budhe penjualnya. Yah, meskipun jumlahnya hanya setengah dari yg niatnya mau dibeli. Well, rejekinya segitu aja kali ya? Lumayan.
Lalu hari ini. Niat beli bakpia pesenan calon adek ipar di 145 Kusumanegara (Jalan Kusumanegara Yogyakarta) yg rasanya memang yahud aduhai sekali. Saya datang sampai di Kusumanegara jam 11.30 setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit dengan motor. Panas syekaliii. And guess what? Yernyata habis! Lucky me! Pesan ndak bisa. Ditanya kapan datang juga blm bs dipastikan krn blm ada kabar. Mau pindah merk lain tp sayang sama rasanya yg sudah cocok di lidah. Akhirnya, nunggu 15 menit sambil ngilangin panas, menenggak minuman dingin, dan becandaan sama bpk2 pegawai pen-staples-an kardus, trus akhirnya tanya sama beliau ttg cabang 145 yg lain. Dikasi tau ada di Gambiran, well sekitar 5 sampai 10 menit dg motor.
Singkatnya, berangkatlah saya kesana berbekal arahan yg dikasi bapaknya. Daaan ketemu! Tanpa nyasar! *so proud of myself* *haha!* Tapi emang nasib, sampai disana, bakpianya habis lagi *lemes* Langsung keluar dan memelas curhat sama tukang parkirnya "Bakpianya habis, Pak." *muka sendu*
Bapaknya jawab "Kusumanegaran, mbak!"
Aku "Tadi sudah dr sana, Pak."
Bpknya "Halah mbak, wong mobilnya barusan berangkat! Bawa 4 kret bakpia." *Dan seketika pengen pingsan*
Akhirnya, balik lagi ke Kusumanegaran dan Alhamdulillah dapet. Mringis sama bapak2 pen-staples kerdus dan beliau pun bilang "Kalo rejwki ngga kemana, mbak." Haha!
Yey! Jadi cerita hari ini bertajuk 'Nyetrika jalanan demi bakpia'
Kamis, 13 Juni 2013
Did You Just Take a Bath, Mam?
Well, this story was based on an “incident” in Changi airport. Yap, Changi, the airport of Singapore. We actually transferred in this airport from Jakarta before continuing to Taiwan. Well, we didn’t use G**ud* airways but T*ge* airways because the latter enabled us to travel around Singapore for a whole day. Yap, the transfer time was 22 hours :D
So anyway, we arrived at Changi at 9 a.m and we directly left the airport after leaving our baggage in left baggage. We traveled around Singapore by MRT and on foot. We visited several places, such as Singapore Art Museum, Merlion Park, War Memorial Hall, Little India, Chinese Town (where we found a mosque and took a nap for about one hour :D), and Sentosa Island including universal studio (Okay, I admit that we only passed by it. We didn’t have enough money and time to go inside). Shortly saying, we got back the airport at 10 p.m when we felt very very starving. We then directly went to the airport’s KFC and ordered two sets of meals for each one of us :D Well, we finally felt too full and couldn’t eat all of them (Lesson1: don’t be too greedy!).
After eating, we went to the Left Baggage to take our baggage. We then hunted for a spot to spend the rest of the night (red: to sleep). We finally found a hallway close to female toilet and it was precisely in the corner of it. After that, we washed ourselves in the toilet and went down to the information desk to take several pieces of Singapore maps. Do you wonder why we took the map while we finished traveling around Singapore? Do you have the same thought as we did? Yap! The maps were to replace the function of mat! Hahahahaha..
Shortly speaking again, we directly fell asleep after taking prayer.I wore jacket, socks, gloves, and hair-cover. But it was so cold that what Iwore wasn’t enough to warm up my body. I woke up every one hour! The first wake up was when I tried to find my mukena and used it as blanket. In the second wake up, I even could feel myself shivering and I tried to look for my sa*ec*ar* and applied it to from toe to neck to warm me up. The next wake up was when I felt cold because my “blanket” was here and there :D
Finally at 3 a.m., I decided to wake up and to take a bath. Well,there had to be bathroom for shower there, but I couldn’t find it. So, I just went directly to a toilet with no shower but this “fake “ shower (I don’t know what it’s called! It’s like small shower used when taking pee?) I used that for taking a bath! Hahahahaha.. Well, it was ridiculous, I know. After taking trouble by taking a bath with such thing, I went back to the hallway where Atin was waiting for me. After that, this is when the title of this story happened.An office-girl came to me and asked “Excuse me, when is your flight, mam?”
Me “this morning, at 7.”
Her “Did you just take a bath?”
Me “Yes I did. Why?” (innocent though fully aware that I was wrong)
Her “You cannot. You should ask.”
Me (thinking: whom to ask?There was nobody1 it was 3 a.m. for God’s sake) “well, sorry.” (showing regretful face)
Her “You see, the toilet is so bad now. You cannot take a bath there.”
Me “Well sorry, I didn’t know that we cannot take a bath there.There was no writing which says ‘Dont take a bath’ so I took a bath. I’m sorry”(well,, lie lie. I completely knew that we should not take a bath there, but there was no written prohibition, so hahahaha)
Her “Next time you cannot.”
Me “Alright, sorry ok?”
Hahahaahahahahaha !! Well, FYI, at the previous night when we came to the hallway, we saw this office girl crying. We didn’t know why, we didn’t ask (for what??)We speculated though: maybe she was scolded by her boss or maybe she was broken-hearted?? God knows.
Being Good Representatives of Our Beloved Country, Indonesia
Well well, the title sounds so awesome right? Good representative ofIndonesia :D But it’s really the fact! Atin and I went to Sun Moon Lake in Taichung and we ended up feeling that we’ve become good representatives of our beloved country, Indonesia.
Okay, to start the story in Sun Moon Lake, I’d like to tell you that this place was actually the second destination of AISC field trip. However,Atin and I could not join the trip because the seats were fully booked. Since the place (on pictures) looks so beautiful, we decided to go there by ourselves by Sun Moon Lake bus. Yap, the two of us. Taking this two-hour journey by bus.When we were in Taichung bus station, we opened our map and saw the picture of Sun Moon Lake bus. And then, a taxi driver came to us and seemed to ask where we were going. Since he spoke Mandarin, we couldn’t really grab what he was saying. So we only showed him the map and pointed Sun Moon Lake. He told us about the bus (as long as I understood him). Well well, we talked in body language after that :D We really appreciated his kind intention in helping us though he couldn’t speak English.
In fact after that, there was this old man who walked here and there while seeing us talking with the taxi driver. He seemed to talk to the taxi driver and then greeted us “Where are you from?”
Atin and me (relieved because of meeting someone speaking English) “Indonesia” :)
Him “Ah! Genius. Many genius are from Indonesia.”
Me “Thank you?” (Turning toAtin and whispering) “Atin, ini bapaknya nyindir, berpragmatik, apaseriusan muji ya?”
Atin “nggak tau mbak” (Laughing together)
Shortly speaking, the bus came and we got on the bus. After two hours, we got off of the bus in Sun Moon Lake station. We paid as much as 200NTto get there. We then walked to see the route map of this lake and decided torent bikes. Unfortunately, the rental owner also didn’t speak English so we didn’t have any idea what he was saying. All we could grab was that the rent fee was 100NT/hour. We rented two bikes. Blue for Atin and pink for me (I wish there were a purple one!). So we rode the bike and took the route based on a map that we brought. The scenerywas soooooooooooo beautiful that we decided to enjoy it without bothering about the time. The blue water, the mountainous background, the hotels in the middle,the green trees, and the romance of many couples (young and old), the ancient temples. They were simply indescribable and unspeakable! Definitely wanna go there again if I have another chance. I hope the next time would be with my husband :) Aamiin.
Anyway, we already rode for (like) two hours that we seemed to be going into forest. There were stairs in front of us. We actually decided to turnaround because we were kinda scared to get into the forest-like situation.However, we saw these three Americans and a Chinese girl riding their bikes and went into the forest. We were then motivated and we felt challenged to get into it too. We kept on riding up up up that we felt tired! We took a break and saw two (Chinese?) men stopping. We asked them if they knew our current position in the map. They pointed a spot and we spontaneously yelled “Whaaaaaaatttttt????”It wasn’t even half of the journey although we already rode for 2.5 hours! We were kinda confused whether to go on with the next route or to turn around. In fact, we decided to go on (which I kinda regret!).
Yap, Atin and I felt like fainted because the route was so tiring.It was uphill, well the slope was low but it was soooo loongggg,, we didn’t even ride our bike but pushed it while walking. Our water ran out, we didn’t bring any food. :( poor us! We decided to take taxi actually, but the taxi which passed by us already had passengers. So we kept on walking while waiting for a miracle.
After an hour, alhamdullillah, we didn’t get fainted :D we even found a food stall! We bought two bottles of cold water and its shop keeper was Indonesian! She came from Malang. We told her about the journey and she said“Ah, yang menuju kesini memang naik terus. Capek. Tapi habis ini turun terus.Paling 30 menit uda sampai ke pangkalan sepeda. Ya ga sampai 1 jam lah.” Well then, we kinda felt so relieved after hearing what she said. She then suggested us to go into a temple in front of the shop because the lake view from there was very very awesome. We did as suggested and it was real awesome, I swear! Trust me!
After that, we left the food stall and she was right: what came before us was downhill route. We were so happy that we didn’t have to use our remaining energy to move forward. We could even feel the fresh breeze of air in our faces and bodies. But then, an uphill route came before us again and it wasn’t short! We thought “Ah, mbaknya PHP!!!!!!” And the remaining route to take was uphill, downhill, uphill, downhill, and we rode, we walked, we sat, we lied down, we complained, we kept silent, we looked up, we looked down, we looked back, we wiped our sweat, etc.
After 1.5 hours, we finally reached the bike rental. We were welcomed by the owner with his unbelieving expression. Though we didn’t understand what he said, he was kinda shocked that we, two girls, could really ride the whole spot of Sun Moon Lake which was soooooo broad! Moreover, we rode sepeda mini instead of sepeda gunung! He then allowed us to rest and he gave us discount for the five-hour rental. We only paid for 4 hourrental. Besides, he also bought two boiled-in-tea chicken eggs and gave them tous for free! And last, when we were about to leave after paying, he asked for our photograph and said something which we couldn’t understand. However, I didhear he mentioned Facebook. Thus we assumed that he wanted our pictures with the sepeda mini(s) to be uploaded inhis FB and he would write “Believe it or not: Two tough Indonesian girls traveled the whole places of Sun Moon Lake in 5 hours with sepeda mini!” hahahahahaha Atin and Iwere happy and so proud of ourselves :p Atin said "Mbak, kita mengharumkan nama bangsa!" wkakakkakakkakakaka
Well, that was it actually. But I have this ironical situation after that. When Atin and I were walking down the street in the souvenir centre, we met the three Americans and the Chinese woman. They greeted us and I told them we just arrived there because we traveled the whole places and it took us 5 hours. They looked shocked and said “WOW! We didn’t even continue our journey and decided to turn around.” And I was like“Whhhhaaaaaaaaatttttttt????” I mean,they were the ones who made us decide to go on with the route when we already decided to turn around. And then we knew that they actually turned around when we went on. What an irony!!! Hahahahuuuhuhuhuh.. So awesome though.. I kinda feel regret but also proud of myself :D
I definitely want some more exciting experience like this!!!!!
![]() |
| Me and One Beautiful Spot at Sun Moon Lake |
Langganan:
Postingan (Atom)

